Tapi kejutan sesungguhnya menunggu di Labota. Daerah yang cuma setengah jam dari Bahodopi ini tiba-tiba sudah berubah jadi kawasan industri baru. Padahal setahun sebelumnya belum ada apa-apa. Sekarang, tonggak-tonggak raksasa mirip penopang monorail sudah berdiri, asap hitam mengepul dari cerobong-cerobong besar.
Konon, tambang ini awalnya ditolak di Bahodopi, tapi entah bagaimana bisa dapat tempat di Labota. Selain nikel dan baja, mereka juga memproduksi manganese atau serbuk batre. Baru berdiri, hak istimewa sudah terlihat – sebuah sekolah umum sampai harus direlokasi demi pembangunan pabrik.
Namun begitu, cerita belum berakhir. Dalam kunjungannya ke Morowali Utara, Arham menemukan kawasan tambang lain di daerah Topogaro, Kecamatan Bungku Barat. Namanya Baoshuo, juga milik China.
Dampak tambang di sini justru lebih mencolok. Dalam waktu kurang dari dua tahun, pegunungan hijau sudah botak. Rerimbunan sawit dibabat, puluhan excavator berjejer sepanjang jalan bagai prajurit yang siap menghabisi sisa gunung.
Menurut cerita penduduk setempat, profesi nelayan di Topogaro nyaris punah. Padahal daerah ini dulu terkenal dengan budidaya ikan teri keringnya. Perahu bagang nelayan sudah hilang, pesisir pantai beralih fungsi jadi dermaga pengapalan. Rencananya akan dibangun smelter juga di sana.
Arham berharap setidaknya ada efek positif buat warga sekitar, meski ia sadar dampak negatifnya jauh lebih besar. Banjir yang belum lama ini melanda Topogaro mungkin bisa dilihat sebagai peringatan.
Nickel memang menggiurkan. Perut bumi dikeruk, orang-orang pun kalap.
Artikel Terkait
Agama atau Bius Massal? Ketika Ibadah Hanya Menenangkan, Bukan Membela
Presiden Prabowo Hadiri Peresmian Sekolah Rakyat, Siswa dari Seluruh Nusantara Siap Tampil
Dukungan Buta pada Pemimpin yang Bohong, Ikut Tanggung Jawabkah Kita?
Dari Ancaman Putus Sekolah hingga Siap Bacakan Puisi untuk Presiden