Jadi, meski Prabowo secara diplomatis mengajak Jinping untuk mengelola Natuna Utara bersama, manuver TNI di kawasan itu jelas punya pesan ganda. Sinyal keras tidak hanya ditujukan pada mafia, tapi juga Beijing: Indonesia siap mempertahankan kedaulatannya dengan tegas.
Sementara itu, di Morowali, latihan gabungan TNI mengambil bentuk berbeda. Jika di Bangka-Belitung armada laut yang dominan, di sini kekuatan udara lebih ditonjolkan. Skenarionya: merebut bandara milik PT IMIP.
Kenapa bandara IMIP jadi target latihan? Rupanya, ini juga bagian dari pesan politik. Prabowo ingin menunjukkan, meski Indonesia terikat perjanjian investasi dengan China di Morowali, kedaulatan tetap di tangan Indonesia. Tidak ada ruang untuk "negara dalam negara".
Pernyataan Sjafrie menegaskan hal itu. Bandara PT IMIP selama ini beroperasi tanpa kehadiran Bea Cukai, Imigrasi, dan Air Nav sebuah anomali yang tak bisa dibiarkan.
Jadi, latihan perang besar-besaran ini punya dua mata pedang. Satu mengarah ke mafia tambang dalam negeri, satu lagi mengirim pesan keras ke China di utara. Dua pesan, satu paket.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp45.000 per Gram, Harga Buyback Justru Naik
BMKG Waspadakan Potensi Hujan dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Sulsel
Presiden Prabowo Tiba di Abu Dhabi, Akan Temui Presiden UEA untuk Perkuat Kemitraan Strategis
FIFA Yakin Piala Dunia 2026 Aman Meski Gelombang Kekerasan Guncang Meksiko