Seorang Anak Autis Berhasil Menghafal 30 Juz Al-Qur'an dalam 18 Bulan
Kisah ini datang dari Negeri Jiran. Yusof, seorang anak berusia 13 tahun dengan autisme, berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Hebatnya, ia menyelesaikan pencapaian luar biasa ini hanya dalam waktu sekitar satu setengah tahun. Semuanya terjadi di Madrasah Tahfiz Az-Zein, atau MATAZ, yang terletak di kawasan Senawang, Malaysia.
Sejak kecil, Yusof sudah menunjukkan bakat yang tidak biasa. Di usia dua tahun, ia didiagnosis mengidap autisme. Namun, di balik kondisinya itu, tersimpan memori auditori yang sangat tajam. Orang tuanya kerap memperhatikan, ia dengan mudah menangkap dan mengingat surah-surah yang diputar melalui radio atau televisi. Minatnya terhadap lantunan ayat suci Al-Qur’an pun tampak begitu kuat, jauh melebihi anak-anak seusianya.
Perjalanan tahfiznya dimulai sekitar usia tujuh tahun. Saat itulah ia mulai bersekolah di lembaga yang fokus pada pembelajaran Al-Qur’an. Kemudian, Yusof melanjutkan pendidikannya di MATAZ Senawang. Di madrasah inilah para guru menyusun metode pembelajaran yang sesuai untuknya, yang lebih mengandalkan pendengaran dan pengulangan.
Ustaz yang membimbingnya mengungkapkan sesuatu yang menakjubkan.
Hafalan Yusof hampir sempurna. Saat murajaah, kesalahannya sangat minim, bahkan lebih sedikit dibandingkan dengan murid-murid lainnya.
Dalam kurun 18 bulan, anak ini berhasil mengkhatamkan hafalan seluruh 30 juz. Sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.
Di sisi lain, kisah Yusof mulai menarik perhatian publik setelah orang tua dan gurunya berbagi cerita dalam sebuah wawancara. Beberapa media utama pun turut mengangkatnya. Mereka tidak hanya melihatnya sebagai sebuah prestasi, tetapi juga sebagai contoh bagaimana anak autis dapat memiliki kekuatan daya ingat dan fokus yang luar biasa. Tentu saja, ini bukan berarti setiap anak autis akan memiliki kemampuan yang sama. Cerita Yusof adalah tentang satu individu yang kekuatannya bertemu dengan lingkungan yang tepat.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari sini sederhana, tapi mendalam: ketika Anda menemukan potensi unik seorang anak, bangunlah sistem dan dukungan di sekitarnya. Dengan begitu, potensi itu bisa berkembang optimal, bahkan melampaui batas yang kita bayangkan.
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday