MANADO - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di sini seringkali mandek di tengah jalan. Padahal, kondisi korban jelas-jelas tidak baik-baik saja. Luka fisik mungkin sembuh, tapi trauma? Itu cerita lain.
Nah, yang bikin masalah ini makin pelik adalah praktik upaya perdamaian antara korban dan pelaku. Alih-alih membawa keadilan, jalan damai ini malah kerap membuat kasusnya menguap begitu saja.
Fakta ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Sulawesi Utara, Wanda Musu. Ia berbicara dalam acara kampanye Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Manado Town Square III.
“Pengalaman kami mendampingi korban, banyak sekali kasus berakhir seperti ini. Cuma digantung, lalu kasusnya diam. Tidak ada kelanjutan. Yang paling dikhawatirkan, hal ini jelas mempengaruhi perkembangan psikologis anak,” ujar Wanda.
Artikel Terkait
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?
Asia Timur dan Pasifik: Lapangan Kerja Tumbuh, Tapi Kualitasnya Tergerus
Trump Tawarkan Uang Tunai ke Setiap Warga Greenland demi Aneksasi