Pas layar dimatiin, komentar berhenti, notifikasi sepi kita tiba-tiba bingung. Hilang arah.
Siapa aku ketika tidak ada yang menonton?
Pertanyaan itu kadang lebih menakutkan daripada dapat likes sedikit.
Mungkin solusinya bukan menolak semua tren. Hidup di dunia yang saling memengaruhi itu wajar. Tapi kita harus sadar: pengaruh nggak harus menghapus keunikan.
Jadi diri sendiri bukan berarti anti-viral. Bukan tutup diri dari dunia digital. Tapi kita butuh pijakan sesuatu yang bikin kita tahu mana yang lahir dari keinginan sendiri, mana yang cuma buat terlihat cocok.
Saya masih pengin percaya, masih ada ruang buat ketidaksamaan. Buat suara yang serak, gaya yang aneh, pemikiran yang nggak semua orang setuju.
Soalnya, apa gunanya dunia yang bisa meniru segala hal, kalau akhirnya kehilangan semua yang bikin kita manusia?
Pada akhirnya, saya cuma pengin bisa jawab satu pertanyaan sederhana ini tanpa ragu:
Siapa aku, ketika aku berhenti meniru?
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Katolik Santo Thomas Medan.
Artikel Terkait
Cangkruk: Ritme Pelan yang Menjaga Kediri Tetap Utuh
Iran Bergolak: Zionis Dituding Dalangi Gelombang Teror dan Pembakaran Tempat Ibadah
Demokrasi di Era Kebisingan: Ketika Politik Indonesia Hanya Jadi Tontonan
Kembang Api dan Teriakan untuk Pahlavi Warnai Malam Teheran yang Masih Bergejolak