Jakarta – Convention Hall Jakarta Islamic Centre (JIC) ramai dipenuhi suara ratusan remaja dan ibu-ibu muslimat, Selasa (25/11/2025). Mereka hadir dalam Kajian Remaja Akbar bertajuk "The Journey of Tauhid: Menjadi Remaja Hebat, Akidah Kuat" yang digelar Divisi Takmir Masjid PPPIJ.
Acara ini menghadirkan dua sosok menarik: Kok Denis Lim dan Koh Dondy Tan, mualaf keturunan Tionghoa yang kisah hidupnya penuh warna. Tak kalah seru, vokalis Ungu, Sigit Purnomo atau yang akrab disapa Pasha Ungu, hadir sebagai pembicara kunci. Saat ini, selain masih aktif di dunia musik, Pasha juga menjalankan tugas barunya sebagai Anggota Komisi VIII DPR.
KH Muhyidin Ishaq selaku Kepala JIC turut hadir dan memberikan sambutan singkat untuk membuka acara.
Dalam pidatonya, Ketua Divisi Takmir JIC, KH Ibnu Abidin, menyoroti peran vital generasi muda. Menurutnya, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kondisi remaja saat ini. "Kalau remaja kita kreatif dan berakhlak, maka masa depan bangsa ini cerah," ujarnya.
Ia melanjutkan dengan sebuah analogi yang menyentuh. Sebagai Ketua MUI Jakarta Utara, ia meyakini bahwa pemuda adalah harapan. "Coba bayangkan, andai bukan karena ada cita-cita dan harapan pada anaknya, seorang ibu mana mungkin rela menyusui dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang?" tuturnya. Poin ini menyiratkan betapa besarnya ekspektasi yang ditumpukan pada pundak generasi muda.
Di sisi lain, Ali Maulana Hakim selaku Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekda Provinsi DKI Jakarta memaparkan korelasi antara pemuda dan status Jakarta sebagai Kota Global. Jakarta yang terbuka, menjadi pusat ekonomi dan pendidikan, tentu punya tantangan tersendiri. Menurut Ali, bekal tauhid yang kuat adalah senjata ampuh bagi remaja untuk menghadapi segala dinamika globalisasi.
"Membentuk generasi tangguh bukan cuma tugas orang tua atau sekolah semata. Butuh peran semua pihak, ibarat 'sekampung' yang turun tangan," tegas Ali, menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendidik anak muda.
Sesi yang cukup menyita perhatian adalah ketika Kok Denis Lim berbagi cerita. Dengan blak-blakan, ia mengisahkan masa lalunya yang kelam sebagai bandar judi di Thailand dan Kamboja sebelum akhirnya menemukan hidayah. "Kalau saya yang dulu jadi bandar saja bisa tobat, mestinya mereka yang cuma main judi juga harusnya lebih mudah lagi untuk berubah," ujarnya, disambut tepuk tangan para hadirin.
Sementara itu, Koh Dondy Tan punya cerita berbeda. Ia kini aktif di bidang kristologi, bahkan kerap terlibat debat terbuka dengan para pendeta. Aktivitasnya mengumpulkan kelemahan-kelemahan dalam Bibel dilakukan demi membentengi akidah umat Islam. "Ini penting, karena dalam ajaran Kristen memang ada misi untuk mengajak orang luar masuk ke agama mereka," jelas Dondy. Upayanya ini ia lakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap upaya pemurtadan yang kerap terjadi.
Acara yang berlangsung semarak ini ditutup dengan harapan bahwa remaja Jakarta tak hanya hebat dalam prestasi, tapi juga kokoh dalam akidah.
Artikel Terkait
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi
Ketua BEM UGM Laporkan Teror Anonim Usai Kritik Pemerintah