AS Ancam Target Infrastruktur Iran, Negosiasi Terancam Gagal

- Senin, 20 April 2026 | 06:00 WIB
AS Ancam Target Infrastruktur Iran, Negosiasi Terancam Gagal

Suasana tegang kembali menyelimuti hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kali ini, ancaman militer dan diplomasi berjalan beriringan dalam waktu yang hampir bersamaan. Di satu sisi, Wakil Presiden AS J.D. Vance dikabarkan akan memimpin tim negosiasi ke Islamabad, Pakistan, untuk berunding dengan Iran. Namun di sisi lain, Presiden Donald Trump justru mengeluarkan ancaman keras.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menuduh Iran melakukan "pelanggaran total" terhadap gencatan senjata. Pasalnya, terjadi insiden penembakan di Selat Hormuz yang menimpa sejumlah kapal, termasuk kapal Prancis dan sebuah kapal kargo yang dikaitkan dengan Inggris. Menurut Trump, pasukan Iran-lah yang bertanggung jawab.

"Kami menawarkan kesepakatan yang sangat adil," tulis Trump, sambil memperingatkan bahwa penolakan Iran bisa berakibat fatal. Ancaman itu jelas: AS siap menargetkan infrastruktur utama Iran jika pembicaraan nanti gagal.

Laporan dari Barak Ravid di Axios mengonfirmasi rencana pengiriman delegasi itu, dengan Vance sebagai pemimpinnya. Tapi, apakah negosiasi benar-benar akan segera dimulai? Tampaknya tidak semudah itu.

Pernyataan dari pihak Iran justru mendinginkan ekspektasi. Saeed Khatibzadeh, wakil menteri luar negeri Iran, berbicara kepada wartawan di sela forum diplomasi di Antalya, Turki. Ia menyebut belum ada tanggal pasti untuk putaran negosiasi berikutnya.

“Kami tidak ingin memasuki negosiasi atau pertemuan apa pun yang pasti akan gagal,” katanya tegas.

Menurut Khatibzadeh, kedua pihak harus menyepakati kerangka pemahaman dulu sebelum duduk bersama. Ia mengaku sudah ada kemajuan signifikan, tapi kemudian terhambat oleh pendekatan maksimalis AS yang mencoba menjadikan Iran pengecualian dari hukum internasional merujuk pada tuntutan AS agar Iran meninggalkan program nuklirnya.

“Sampai kita menyepakati kerangka kerja, kita tidak dapat menetapkan tanggalnya,” ujarnya lagi. Poinnya jelas: Iran menolak negosiasi yang dianggap tidak setara dan di luar koridor hukum internasional.

Sementara kata-kata masih dipertukarkan, gencatan senjata yang berlaku di akhir pekan itu benar-benar diuji. Situasi di lapangan malah semakin panas. Iran dikabarkan menyerang beberapa kapal komersial dan menyatakan Selat Hormuz berada di bawah kendalinya. Sebelumnya, pernyataan pembukaan selat itu sempat memicu reli di Wall Street dan penjualan minyak yang tajam.

Namun, laporan Wall Street Journal justru menyodorkan gambaran yang lebih berbahaya. Militer AS disebutkan siap siaga untuk menaiki dan menyita kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran di perairan internasional. Ini adalah eskalasi yang sangat serius.

Faksi-faksi di Iran pun tak tinggal diam. Mereka menuduh AS-lah yang sebenarnya melanggar perjanjian, dengan terus mempertahankan blokade menggunakan kapal perangnya dan meningkatkan tekanan ekonomi terhadap rezim di Tehran. Semuanya seperti menunggu percikan api berikutnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar