Guru Bukan Pedagang Ilmu, Tapi Perantara Cahaya Tuhan

- Selasa, 25 November 2025 | 12:00 WIB
Guru Bukan Pedagang Ilmu, Tapi Perantara Cahaya Tuhan

Guru, Wakil Tuhan di Muka Bumi
Ilmu Bukan untuk Dijual, Pengabdian untuk Kemaslahatan Umat

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ),
Executive Director HIAWATHA Institute

Di hampir semua tradisi keilmuan entah itu filsafat, agama, atau sains modern guru selalu punya tempat yang istimewa. Posisinya jauh lebih tinggi ketimbang sekadar profesi biasa. Guru bukan cuma penyampai informasi belaka. Mereka adalah penuntun, pembimbing, sekaligus jembatan yang menghubungkan manusia dengan pengetahuan. Dan pada hakikatnya, pengetahuan itu sendiri bersumber dari Tuhan. Makanya, tak heran jika dalam banyak kebudayaan, guru sering disebut sebagai wakil Tuhan di dunia. Bukan dalam arti teologis yang sakral, tapi lebih pada makna moral dan epistemologis: guru adalah perantara yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya ilmu.

Manusia sebenarnya tidak menciptakan ilmu. Mereka hanya menemukannya. Hukum gravitasi sudah berlaku jauh sebelum Newton lahir. Tata surya sudah berjalan teratur sebelum Copernicus memetakannya. Begitu pula struktur atom, yang sudah ada sebelum Rutherford menelitinya. Manusia hanya berusaha membuka sedikit tirai dari orkestrasi besar ciptaan Tuhan.

Nah, kalau ilmu memang bagian dari fenomena alam yang sudah ditetapkan Tuhan, maka manusia terutama guru hanyalah perantara. Mereka tidak berhak mengklaim ilmu sebagai milik mutlak. Tugas mereka adalah menyampaikan apa yang mereka pahami, agar bermanfaat bagi orang lain. Di sinilah letak kemuliaan seorang guru: menjadi simpul penghubung antara yang Ilahi dan yang manusiawi.

Lalu, mengapa ilmu tak boleh dikomersialkan secara berlebihan?

Memang, guru juga manusia. Mereka butuh hidup layak. Kebutuhan dasar tak bisa diabaikan hanya karena mereka berprofesi sebagai pendidik. Tapi masalah muncul ketika ilmu dijadikan komoditas yang diperdagangkan dengan logika pasar. Semakin mahal bayarannya, semakin tinggi "derajat" ilmu yang diberikan. Dalam paradigma profetik, ini jelas sebuah penyimpangan.

Guru seharusnya tidak menjadi pedagang ilmu. Saat ilmu dikomersialkan tanpa batas, esensinya sebagai petunjuk dan hidayah pun berubah jadi barang dagangan. Ilmu kehilangan ruhnya sebagai jalan menuju kebijaksanaan. Dan yang lebih memprihatinkan, banyak orang kehilangan kesempatan belajar hanya karena tak punya "modal".

Mengajarkan ilmu seharusnya dilihat sebagai ibadah, bukan transaksi ekonomi. Boleh saja ada imbalan, tapi orientasi utamanya jangan sampai sekadar mencari keuntungan.

Guru sebagai Bentuk Pengabdian

Di titik inilah, guru menemukan posisi sejatinya. Mereka tak cuma mengajarkan materi pelajaran, tapi juga membangun akal, membentuk karakter, menyuburkan hati, dan menuntun manusia menuju kemaslahatan.

Guru ibarat perpanjangan tangan Tuhan dalam menumbuhkan pengetahuan. Setiap kata yang diucapkan, setiap penjelasan yang diberikan, dan setiap waktu yang dicurahkan untuk mendidik semuanya adalah bentuk ketundukan kepada Sang Pemberi Mandat.

Karena itulah, profesi guru bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah pengabdian murni.

Seorang guru yang menyadari posisinya sebagai wakil Tuhan tak akan mendidik dengan malas, tak akan mengajar dengan niat memanipulasi, apalagi memperlakukan murid sebagai objek komersial. Mereka akan mendidik dengan niat melanjutkan tradisi kenabian: menyampaikan kebenaran, membebaskan kebodohan, dan menumbuhkan maslahat bagi umat manusia.

Penutup
Kemuliaan Guru adalah Kemuliaan Peradaban

Mustahil membayangkan peradaban maju tanpa kehadiran guru yang ikhlas. Mustahil pula membayangkan umat yang kuat tanpa pendidik yang menjalankan ilmunya sebagai amanah Tuhan. Dan tentu saja, tak akan ada generasi unggul tanpa guru yang memandang profesinya sebagai ladang ibadah, bukan ladang bisnis.

Jadi, memuliakan guru sama artinya dengan memuliakan ilmu. Dan memuliakan ilmu berarti memuliakan Tuhan, sumber dari segala pengetahuan.

Guru adalah wakil Tuhan. Maka ilmu yang disampaikannya harus menjadi cahaya, bukan barang dagangan; menjadi petunjuk, bukan komoditas. Lewat pengabdian guru, manusia menemukan jalan untuk memahami alam semesta dan pada akhirnya, memahami Tuhannya.

TERIMA KASIH GURUKU

Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ), Executive Director HIAWATHA Institute di Jakarta

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar