Rais Aam vs Ketum Tanfidziyah: Siapa Lebih Berkuasa?
Sebagai kader Muhammadiyah, saya cuma bisa bandingkan model AHWA PBNU dengan ormas Islam lainnya. Memang menarik diamati.
Di tubuh PBNU, ada konsep Ahlul Hali Wal Aqdi atau AHWA. Intinya semacam dewan penasihat tertinggi. Kalau di ormas lain, biasa disebut Majelis Syuro. Sementara di Iran, sistem serupa dikenal dengan nama Wilayatu Faqih.
Nah, Rais Aam ini dipilih langsung oleh AHWA. Posisinya kurang lebih setara dengan Ketua Majelis Syuro di organisasi lain. Bahkan kalau mau ditarik lebih jauh, di Iran posisi ini sejajar dengan Ayatollah Ali Khamenei.
Di Iran, Ali Khamenei memang Supreme Leader. Pemimpin tertinggi negara yang kedudukannya berada di atas presiden. Kira-kira begitu juga pola yang berlaku di ormas Islam yang punya Majelis Syuro.
Tapi yang jadi pertanyaan, apakah Rais Aam PBNU punya kekuatan sebesar "Supreme Leader" seperti di negara atau organisasi lain?
Soalnya, saya sendiri bukan kader NU. Jadi agak kurang paham betul soal sejauh mana kekuatan Rais Aam Syuriah dibandingkan dengan Ketua Umum Tanfidziyah di internal PBNU.
Semoga Alloh SWT senantiasa menjaga PBNU dan kita semua. Aamiin.
(Ustadz Budi Hidayat)
Artikel Terkait
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian
Timnas Putri Indonesia Ditahan Imbang Kamboja di Laga Penutup FIFA Matchday