Suasana di markas PBNU Jakarta pada Minggu malam itu cukup tegang. Rapat yang dihadiri sekitar 50 alim ulama akhirnya menghasilkan keputusan penting: tidak ada pemakzulan terhadap Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya, dari jabatan ketua umum. Isu yang sempat menghangat itu pun, setidaknya untuk sementara, menemui titik terang.
Katib Aam PBNU, Ahmad Said Asrori, usai rapat menyampaikan bahwa forum tersebut justru menyepakati satu hal lain. Akan digelar sebuah pertemuan yang jauh lebih besar, melibatkan lebih banyak kiai dan ulama.
"Semua Kiai, semua mengusulkan agar ada silaturahim yang lebih besar di antara para alim, para kiai," kata Asrori.
Ia pun mengakui bahwa persoalan internal ini sudah menjadi konsumsi publik. "Jadi bagaimana ini kita sudah menjadi konsumsi publik ada masalah. Tapi ini semua sepakat (rapat lebih besar)," sambungnya.
Masalah yang dimaksud Asrori tak lain adalah desakan mundur yang dialamatkan kepada Gus Yahya. Desakan itu sendiri berawal dari sebuah surat yang ditandatangani Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, pada 20 November 2025 lalu. Surat itu merupakan hasil musyawarah antara sang Rais Aam dengan dua Wakil Rais Aam.
Artikel Terkait
Pramono Anung Tegaskan JPO Sarinah Akan Dibangun Kembali, Utamakan Akses Difabel
Indonesia dan Turki Sepakati Aksi Nyata, Dari Gaza hingga Industri Pertahanan
Prajurit Gugur di Nduga, Ayah Banggakan Tekad Baja Anaknya yang Tak Pernah Menyerah
Megawati Bikin Heboh, Nyanyikan Cinta Hampa di Panggung Rakernas PDIP