Gus Yahya Tegaskan Tak Ada Niatan Mundur Meski Ditekan Surat

- Minggu, 23 November 2025 | 03:18 WIB
Gus Yahya Tegaskan Tak Ada Niatan Mundur Meski Ditekan Surat
Pernyataan Gus Yahya

Di tengah beredarnya surat yang memintanya mundur, Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tak akan meninggalkan jabatannya. Surat itu sendiri ditandatangani oleh Rais Aam PBNU, KH Miftachul Akhyar, pada 20 November 2025, dan konon didasarkan pada rapat harian Syuriyah.

“Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur,” tegasnya. Ia mengingatkan bahwa mandat yang diterimanya dari Muktamar adalah untuk lima tahun ke depan. “Ya, pada muktamar 34 yang lalu saya mendapatkan mandat 5 tahun. Karena akan saya jalani selama 5 tahun. Insyaallah saya sanggup,” ujar Gus Yahya usai menghadiri rapat koordinasi bersama sejumlah Ketua PWNU se-Indonesia di Hotel Novotel Samator, Surabaya, Minggu (23/11).

Menurutnya, rapat harian syuriyah tidak punya wewenang untuk mengambil langkah seperti itu. Apalagi memutuskan pemberhentian seorang ketua umum.

“Kalau dikatakan kemarin itu sebagai keputusan rapat syuriah, rapat harian syuriyah yang punya konsekuensi akan memundurkan ketua umum, maka saya tandaskan bahwa rapat harian syuriyah menurut konstitusi AD/ART tidak berwenang untuk memberhentikan ketua umum,” ucapnya dengan nada tenang namun pasti.

Ia melanjutkan, “Memberhentikan fungsionaris yang lain saja tidak. Memberhentikan misalnya salah seorang wakil sekjen itu rapat harian syuriah tidak bisa. Memberhentikan misalnya ketua lembaga rapat harian syuriah tidak bisa apalagi ketua umum.”

Karena itu, Gus Yahya menilai surat tersebut tidak sah secara konstitusional.

“Jadi maka kalau kemudian rapat harian syuriyah ini menyatakan atau membuat satu implikasi untuk memberhentikan ketua umum, maka itu tidak sah,” tegasnya lagi.

Di sisi lain, rapat koordinasi yang baru saja dijalaninya justru diwarnai dukungan. Beberapa Ketua PWNU yang hadir secara tegas memintanya untuk tetap bertahan.

“Pertama-tama mereka mengatakan tidak mau saya mundur. Jadi mereka itu khawatir saya mundur. Karena mereka dulu memilih saya, mereka akan kecewa kalau saya mundur. Saya katakan saya tidak terbesit sama sekali, karena enggak ada alasan untuk itu,” tuturnya.

“Kedua ya bahwa mereka ingin mengkonsolidasi sendiri lah, ya silakan. Saya hanya menyampaikan penjelasan-penjelasan supaya pemahaman mereka utuh dan tidak hanya dituntun oleh rumor apalagi oleh fitnah-fitnah,” imbuh Gus Yahya.

Adapun isi surat yang beredar, yang ditandatangani oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar pada 20 November 2025, memuat keputusan berdasarkan musyawarah antara Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam.

Dalam surat itu disebutkan:

KH Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam waktu 3 (tiga) hari terhitung sejak diterimanya keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU.

Jika dalam waktu 3 (tiga) hari tidak mengundurkan diri, Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar