Karena itulah, pembangunan di Jawa Barat ke depan, menurutnya, harus mengacu kembali pada kearifan lokal itu. Ia bahkan menyebut bahwa saat ini sudah ada langkah nyata, seperti membongkar bangunan yang berdiri di sempadan sungai. Tujuannya sederhana: agar aliran air tidak lagi tersumbat. Alih fungsi lahan juga dibatasi, demi mengembalikan lingkungan pada fungsi alamiahnya.
Di sisi lain, KDM menekankan pentingnya para pemangku kepentingan untuk belajar. Belajar pada masyarakat adat Sunda tentang bagaimana membangun secara berkelanjutan, menjaga ketahanan pangan, dan menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial-budaya.
Ia punya pesan khusus.
"Maka kepada para birokrat, politisi, dan para pemangku kepentingan lainnya, masyarakat adat jangan dikenalkan dengan ‘budaya proposal’ karena itu akan berseberangan dengan nilai-nilai adat budaya," tegas KDM.
Peringatan itu disampaikannya melalui rilis resmi, menegaskan bahwa pendekatan transaksional justru bisa merusak nilai-nilai luhur yang sudah dijaga turun-temurun.
Artikel Terkait
Iran Tegas Tangani Perusuh, Unjuk Rasa Bergulir ke 45 Kota
Pandji Pragiwaksono Dilaporkan, Muhammadiyah dan NU Tegaskan Bukan Sikap Resmi
Ketika Humor Tak Mau Lagi Hanya Menghibur: Absurditas dan Batas Toleransi Publik
Ketika Koruptor Beragama Islam, Mengapa Agamanya yang Diserang?