Densus 88 Galakkan Sosialisasi IRET ke Pelajar Aceh

- Jumat, 21 November 2025 | 23:36 WIB
Densus 88 Galakkan Sosialisasi IRET ke Pelajar Aceh
Densus 88 Bentengi Pelajar dari Paham Radikal

Densus 88 Bentengi Pelajar dari Paham Radikal

Anak-anak sekolah kini jadi sasaran empuk bagi kelompok teroris dalam merekrut anggota baru. Fakta inilah yang mendorong Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri untuk tak henti menggencarkan kewaspadaan dini. Kali ini, giliran seratus lebih siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 1 Aceh Besar yang mendapat sosialisasi langsung dari Tim Pencegahan Satgaswil Aceh, Jumat lalu.

“Kita kasih pemahaman soal cara mencegah paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, sampai terorisme yang kita sebut IRET. Kenapa fokus ke anak sekolah? Karena mereka target utama perekrutan, bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah,” jelas Alfais Fajar Muhammad, salah satu anggota tim.

Alfais tak sekadar bicara teori. Ia menyebut kasus peledakan di SMA 72 Jakarta sebagai bukti nyata betapa masifnya penyebaran paham radikal lewat dunia digital. Menurutnya, pendekatan langsung ke pelajar seperti ini adalah langkah preventif yang penting. Materinya sendiri dibuat sesederhana mungkin, tapi menyentuh hal-hal praktis.

“Kita jabarkan modus perekrutan, sasaran, dan sarana yang biasa dipakai pelaku teror. Intinya, kita mau bentengi mereka sejak dini,” tambah Alfais.

Lantas, mengapa memilih Sekolah Rakyat? Alfais menjelaskan bahwa sekolah ini merupakan bagian dari program prioritas nasional yang dinilai punya efektivitas tinggi. Selain itu, agenda pencegahannya juga selaras dengan upaya yang digalakkan Mabes Polri.

“Memang enggak cuma Sekolah Rakyat sih, kita juga datangi sekolah-sekolah lain di Aceh. Tapi di sini kami rasa lebih tepat,” ungkapnya.

Harapannya, para siswa dan guru yang sudah mendapat sosialisasi bisa menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. “Siapa tahu di sekitar kita, bahkan dalam keluarga sendiri, ada yang sudah terpapar paham intoleran atau radikal. Lewat para siswa ini, pesan pencegahan bisa disebarluaskan,” tuturnya.

Di sisi lain, Alfais menekankan bahwa upaya pencegahan terorisme bukan hanya tugas Densus 88. “Kami enggak bisa jalan sendirian. Butuh keterlibatan semua unsur masyarakat,” tegasnya.

Salah satu siswi, April (15), mengaku baru pertama kali mendapat sosialisasi semacam ini. “Tadi diajarin tentang terorisme, radikalisme, dan dampak buruknya. Itu perbuatan yang jelas salah. Baru masuk Sekolah Rakyat, dapat pengetahuan kayak gini,” ujarnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar