Ancaman Tarif Trump Picu Banjir Darah di Pasar Saham Global

- Rabu, 21 Januari 2026 | 12:24 WIB
Ancaman Tarif Trump Picu Banjir Darah di Pasar Saham Global

Pasar saham global benar-benar babak belur pada Rabu (21/1) kemarin. Warna merah mendominasi hampir semua papan indeks, dari Wall Street yang jadi penyulut, hingga ke Bursa Efek Indonesia yang terpuruk cukup dalam. Situasinya mirip efek domino, satu jatuh, yang lain ikut terseret.

Di Asia, suasana juga suram. Indeks Nikkei 225 Jepang melemah 0,47 persen ke level 52.736. Hang Seng Hong Kong sedikit tertekan, turun tipis 0,04 persen. Sedikit cahaya datang dari China, di mana SSE Composite justru naik 0,29 persen. Namun, itu tak cukup untuk mengubah sentimen. Indeks Straits Times Singapura ikut merosot 0,41 persen.

Nah, yang paling menderita justru IHSG kita. Pada perdagangan sesi pertama, indeks komposit ini anjlok tajam 1,24 persen ke posisi 9.021,48. Indeks LQ45 juga tak berkutik, terpangkas 1,17 persen. Pasar dalam negeri dipenuhi aksi jual saham yang turun mencapai 575 emiten, jauh mengalahkan yang naik hanya 143 saham. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakkan.

Lalu bagaimana dengan Eropa? Sama saja. FTSE 100 di London turun 0,67 persen, sementara Xetra Dax di Frankfurt, Jerman, terperosok lebih dalam lagi, kehilangan 1,03 persen.

Namun begitu, pusat gempa sebenarnya ada di Amerika. Ketika pasar dibuka setelah libur panjang, reaksi investor ternyata sangat keras. Dow Jones jatuh 1,76 persen. S&P 500 bahkan kolaps 2,06 persen. Tapi yang paling parah adalah Nasdaq, yang terjerembap 2,39 persen penurunan satu hari terbesar dalam tiga bulan terakhir!

Menurut Reuters, semua ini bermula dari ancaman baru Donald Trump.

“Kami melihat aksi jual yang sangat luas dan emosional,” kata seorang analis pasar seperti dikutip Reuters. “Investor sepertinya trauma dengan isu tarif yang kembali menghantui.”

Ancaman Trump itu sederhana tapi berdampak besar: tarif impor tambahan 10% untuk sejumlah negara Eropa, mulai 1 Februari. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Inggris kembali jadi sasaran. Bahkan, tarif itu bisa melonjak jadi 25% pada Juni nanti jika AS tidak bisa membeli Greenland sebuah pulau yang secara tegas sudah ditolak untuk dijual oleh pemerintah Denmark dan Greenland sendiri.

Pernyataan Trump di akhir pekan itu ibarat menyulut bensin di tumpukan jerami. Pasar langsung panik, mengingatkan semua orang pada “Hari Pembebasan” April lalu, ketika perang dagang hampir menjerumuskan S&P 500 ke wilayah bear market.

Aksi jual ini begitu menyeluruh, mendorong investor mencari tempat aman. Emas meroket ke rekor tertinggi baru. Di sisi lain, obligasi pemerintah AS juga dijual, mendorong biaya utang naik. Uniknya, Bitcoin yang kerap dianggap ‘safe haven’ alternatif justru ikut terperosok lebih dari 3%. Rasanya, tidak ada tempat yang benar-benar aman saat ketakutan seperti ini melanda.

Intinya, perdagangan Selasa waktu AS adalah panggung bagi investor untuk meluapkan kekhawatiran mereka. Kekhawatiran bahwa perang dagang, momok yang sempat mereda, ternyata belum benar-benar berakhir. Dan pasar membalasnya dengan warna merah menyala di mana-mana.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar