Refleksi dan Harapan di Penghujung Tahun, Digelar di Bandung
Bandung akan menjadi tempat perhelatan khusus untuk menutup 2025. Jala Bhumi Kultura (JBK) bakal menggelar sebuah kegiatan seni bertajuk “Refleksi Akhir Tahun 2025 Harapan Tahun 2026”. Acara ini rencananya digelar Sabtu, 27 Desember 2025, mulai sekitar pukul empat sore sampai delapan malam. Lokasinya di DC Corner, Jalan Ranggamalela Nomor 11, kawasan Dago.
Bagi banyak orang, pergantian tahun memang momen yang pas untuk jeda sejenak. Menengok ke belakang, lalu menatap ke depan. Nah, semangat itulah yang coba diangkat dalam acara ini. Menurut rilis yang diterima redaksi, ini bukan sekadar pertunjukan biasa. Mereka ingin menciptakan sebuah ruang temu yang memadukan seni, pengalaman hidup, dan kesadaran sosial kita bersama.
Seni di sini diharapkan jadi medium refleksi kolektif. Sebuah cermin untuk melihat kembali berbagai peristiwa sepanjang 2025 entah itu yang bersifat personal, sosial, atau kultural. Di sisi lain, acara ini juga dimaksudkan sebagai penanda harapan baru sekaligus sikap kritis menyongsong 2026.
Kenapa sih pakai seni? Para penggagas acara percaya, seni punya bahasa yang jujur dan lentur. Daya ungkapnya seringkali bisa menembus batas-batas rasional. Panggung pun diharapkan berubah jadi ruang dialog. Sementara tubuh, suara, dan gerak akan menjadi medium penyampai pesan.
Rangkaian acaranya sendiri cukup beragam. Herman HMT akan membuka dengan monolog. Lewat sajian ini, ia ingin menghadirkan refleksi personal yang berkelindan dengan realitas sosial di luar sana. Suara individu yang mewakili kegelisahan banyak orang.
Lalu, ada juga pertunjukan pantomime dari ISMIME & Jos Dumber-Dumbers. Mereka akan mengekspresikan realitas lewat bahasa tubuh tanpa kata. Gestur, mimik, dan simbol visual diharapkan bisa menyampaikan kritik sosial secara lugas, tapi tetap puitis.
Tak ketinggalan, Aendra Medita akan menyampaikan orasi budaya. Topiknya tentang media dan media sosial di Indonesia sepanjang 2025. Di tengah banjir informasi dan tantangan literasi digital, orasi ini jadi momen penting untuk berefleksi. Audiens diajak untuk lebih sadar dan bijak dalam memaknai setiap informasi yang diterima.
Nuansa gerak akan diperkaya oleh Tari 50 yang dibawakan Enung, Lina, Indri, dan Risma. Pertunjukan ini sekaligus jadi pernyataan: seni tidak kenal batas usia. Pengalaman hidup dan kedewasaan justru jadi kekuatan untuk menafsirkan gerak. Estetika yang dibawa juga sarat pesan tentang keberlanjutan dan keberanian berkarya di setiap fase usia.
Pada intinya, rangkaian sajian ini ibarat mozaik refleksi. Setiap penampil membawa perspektifnya masing-masing, tapi bertemu dalam satu semangat yang sama. Yaitu, menjadikan seni sebagai ruang untuk berpikir, merasakan, dan berbagi makna.
DC Corner dipilih bukan tanpa alasan. Tempat ini dikenal punya komitmen sebagai ruang alternatif untuk dialog kreatif di Bandung. Meski acaranya bersifat undangan terbatas untuk menjaga kedekatan interaksi semangatnya tetap terbuka. Mengajak siapa pun untuk ikut merenung dan menumbuhkan harapan bersama.
Dengan menghadirkan seni sebagai cermin zaman, acara ini diharapkan bisa jadi penutup tahun yang bermakna. Sekaligus pembuka langkah menuju 2026 dengan kesadaran dan optimisme yang baru.
Artikel Terkait
Satgas Cartenz 2026 Amankan Senjata Rakitan di Rumah Kosong Yahukimo
Manchester United Hadapi Ujian Mental di London Stadium Lawan West Ham
Mentan: Kolaborasi dengan Polri Kunci Ketahanan Pangan Nasional
IHSG Menguat 1,24% ke 8.131, Analis Soroti Peluang dan Kewaspadaan