Hijau tebal. Itulah kesan yang ditinggalkan IHSG di akhir perdagangan Selasa (10/2/2026) kemarin. Indeks berhasil naik hampir 100 poin, tepatnya 99,9 poin, dan mengunci posisi di level 8.131,74. Padahal, awal sesi sempat diwarnai volatilitas yang cukup membuat deg-degan. Tapi, tekanan itu rupanya tak bertahan lama. Perlahan-lahan, grafik mulai merangkak naik dan bertahan di zona hijau hingga bel penutupan sesi kedua berbunyi.
Yang menarik, penguatan ini terjadi di tengah kabar dari FTSE Russell. Lembaga pemeringkat global itu memutuskan untuk menunda review saham-saham Indonesia pada Maret mendatang. Tapi, pasar tampaknya tidak terlalu ambil pusing. Keputusan FTSE dinilai lebih sebagai persoalan teknis belaka, bukan sinyal buruk soal fundamental pasar modal kita. Alhasil, dampaknya terhadap IHSG pun terbatas.
Menurut pengamat pasar modal Hendra Wardana, penundaan ini punya alasan yang cukup jelas. Latar belakangnya adalah ketidakpastian proses reformasi pasar, terutama soal aturan free float minimum dan potensi gangguan mekanisme pasar di masa transisi.
"Karena itu, FTSE memilih menahan seluruh perubahan indeks hingga terdapat kepastian regulasi yang lebih solid,"
katanya, seperti dikutip Selasa lalu.
Dampak langsungnya? Struktur indeks FTSE Indonesia akan statis untuk sementara. Tak ada saham baru yang masuk atau keluar, bobot indeks tak berubah, dan penyesuaian akibat aksi korporasi seperti rights issue juga ditangguhkan. Namun begitu, Hendra justru melihat sisi positifnya. Bagi investor institusi besar dari luar negeri, kondisi ini malah memberi kepastian sementara dan mengurangi risiko rebalancing yang tiba-tiba.
"Inilah yang menjelaskan mengapa pasar tidak bereaksi negatif secara agresif terhadap keputusan FTSE tersebut,"
tuturnya.
Di sisi lain, penguatan IHSG hari itu sendiri ia baca sebagai sinyal penting. Pasar domestik, menurutnya, mulai menemukan ritme positif lagi. Dan kenaikannya bukan cuma ilusi. Penguatan terjadi secara merata di berbagai sektor, dengan sektor konsumer primer jadi andalan. Dari luar negeri, angin juga berhembus baik. Bursa-bursa Asia kompak menguat, dipimpin Jepang yang merespons positif kemenangan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Stabilitas politik dan kontinuitas kebijakan ekonominya disambut hangat oleh pasar.
Sentimen lain datang dari pelemahan indeks dolar AS yang mendekati level terendah bulanan. Ini membuka peluang bagi aset berisiko di pasar berkembang, termasuk Indonesia, untuk kembali dilirik. Di dalam negeri, terjadi rotasi sektor yang terlihat sehat. Investor berbondong-bondong kembali ke saham-saham dengan basis konsumsi domestik yang kuat seperti ASII, ERAA, AMRT, dan UNTR yang dianggap punya daya tahan lebih baik menghadapi gejolak global.
Jadi, meski bayangan isu struktural masih ada, hari Selasa kemarin menjadi pengingat bahwa pasar kita masih punya napas untuk bergerak maju.
Artikel Terkait
BEI Umumkan Resmi, PT Oso Sekuritas Indonesia Berganti Nama Jadi Sukadana Prima Sekuritas
KAI Logistik Optimalkan Keamanan Angkutan Bahan Berbahaya via Kereta Api
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.811 di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Tunggu Data Ekonomi Global
Indosat (ISAT) Catat Laba Bersih Rp5,5 Triliun di 2025, Tumbuh 12%