Namun begitu, situasi langsung berubah mencekam. Rustam tiba-tiba masuk ke kamar, mendorong sang ayah, lalu memukulnya. Awalnya Sri mengira alat yang digunakan hanya kayu biasa. Kekeliruannya baru tersadar saat darah korban mulai muncrat ke mana-mana. "Enggak taunya pas darah muncrat baru sadar kalau ternyata golok," tuturnya dengan suara bergetar.
Tak kuat menyaksikan pemandangan mengerikan itu, Sri langsung berlari ke rumah tetangga di belakang. Sementara itu, Rustam kabur begitu saja dari lokasi kejadian.
Menurut pengakuan Sri, Rustam memang memiliki riwayat gangguan jiwa. "Dia (pelaku) emang terganggu mentalnya, udah 15 tahunan dulu sempat dibawa sama Polisi sama Pak Lurah ke Rumah Sakit Jiwa, tapi pulang rawat jalan gitu," jelasnya. Kondisi itu diduga menjadi salah satu pemicu ledakan amukannya.
Di sisi lain, suasana di lokasi kejadian masih mencekam. Berdasarkan pantauan di TKP, rumah korban telah dipasangi police line. Jenazah Marso pun telah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk menjalani pemeriksaan medis lebih lanjut. Kasus pembunuhan oleh anak kandung ini tentu meninggalkan luka yang dalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Artikel Terkait
Iran Klaim Campur Tangan Asing, 51 Korban Jiwa Tewas dalam Gelombang Unjuk Rasa
Isu Kabur dan Aset Miliaran: Mengapa Narasi Pelarian Khamenei Tak Menyentuh Realitas?
KPK Gelar OTT di Kantor Pajak Jakarta Utara, Dugaan Manipulasi Pengurangan Pajak
Poligami Dihukum Lebih Berat, Kohabitasi Diringankan: Paradoks KUHP Baru