Memang ada yang berkilah: “Ah, itu cuma politik. Manuver. Framing oposisi.” Ya iyalah, politik. Tapi justru dalam hal-hal sederhana seperti inilah karakter seorang pemimpin paling kentara: apakah dia tipe yang mau menjawab dengan lugas, atau malah langsung defensif ketika ditanya hal yang seharusnya biasa saja.
Di sisi lain, di negara-negara yang normal, menunjukkan ijazah bagi pejabat itu semudah menyalakan lampu ruang tamu. Sederhana. Tanpa drama. Bahkan tak sedikit presiden atau pemimpin di luar negeri yang dengan sukarela membuka akses ke rapor, tesis, atau data pendidikan mereka. Bukan karena diwajibkan, tapi karena itu bentuk penghormatan kepada publik.
Lalu di mana letak kejanggalannya? Bukan karena kita langsung berprasangka ada yang disembunyikan. Bukan. Tapi karena sikapnya overreaksi terhadap hal yang mestinya sepele. Kalau memang tak ada masalah, apa susahnya meladeni permintaan itu? Kalau semuanya clear, kenapa tidak diselesaikan sejak awal? Kalau yakin publik percaya, mengapa tidak membuat mereka semakin yakin?
Kadang yang jadi persoalan bukan isi penolakannya, tapi cara menyampaikannya. Nada bicaranya. Gestur tubuhnya. Itu yang bikin orang mengernyit.
(fb)
Artikel Terkait
Aubameyang Jadi Pahlawan, Marseille Balikkan Keunggulan Lyon 3-2 di Injury Time
Go Ahead Eagles Kalahkan Excelsior 1-0, Jonathans dan James Turun Bermain
Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 20 Maret 2026
Imsak Jatuh Pukul 04.17 WIB untuk Warga Yogyakarta Hari Ini