Bayangkan saja. Sebuah peristiwa kecil seorang politisi tersangkut di gorong-gorong bisa mengubah sejarah. Itulah yang sering disebut efek kupu-kupu. Nah, kalau kita terapkan di Indonesia, kira-kira bagaimana jadinya negeri ini tanpa Joko Widodo? Sebuah unggahan media sosial yang belakangan viral mengajak kita membayangkan narasi alternatif itu.
Gibran: Mungkin Hanya Pengusaha Makanan, Bukan Calon Wapres
Tanpa Jokowi di panggung politik, nama Gibran Rakabuming Raka mungkin tak seterkenal sekarang. Dia barangkali tetap fokus menggeluti bisnis kuliner, bukan jadi calon wakil presiden. Menurut pengamat politik Ikrar Nusa Bhakti, Jokowi dituding "menghalalkan segala cara" demi mendongkrak karier anaknya itu.
Whoosh: Proyek Rp116 Triliun yang Mungkin Tak Pernah Ada
Kereta cepat Whoosh, yang nilainya mencapai US$6,1 miliar, disebut-sebut menambah utang Indonesia hingga Rp116 triliun. Agus Pambagio bilang, proyek ini adalah inisiatif pribadi Jokowi. Padahal, sebelumnya sudah ada peringatan bahwa proyek kereta cepat Jakarta-Bandung sebenarnya tidak layak secara finansial.
Ibu Kota Negara: Masihkah Jadi Wacana?
Wacana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kalimantan Timur sebenarnya sudah ada sejak zaman Soekarno. Tapi tanpa Jokowi, mungkin rencana itu cuma tetap jadi wacana. Anggaran Rp76,5 triliun yang dipakai untuk IKN bisa saja dialihkan ke proyek infrastruktur lain. Sementara Kalimantan Timur tetap menjadi kawasan pertambangan seperti sedia kala.
Kontroversi Ijazah: Isu yang Mungkin Tak Pernam Muncul
Isu ijazah palsu yang ramai di 2014 dan kembali mencuat di awal 2025, termasuk gugatan hukum yang akhirnya ditolak, mungkin tak akan pernah terjadi tanpa figur Jokowi. Debat publik soal keaslian ijazah presiden tak akan mengemuka sama sekali.
Pemberantasan Korupsi: KPK yang Lebih Otoritatif?
Menurut ICW, di era SBY, KPK dinilai lebih efektif menangani kasus korupsi. Namun, revisi UU KPK di masa Jokowi disebut-sebut melemahkan independensi dan daya gebuk lembaga antirasuah itu.
Utang Negara: Bisa Jadi Tak Melonjak Tajam
Di bawah kepemimpinan Jokowi, utang Indonesia naik drastis dari Rp2.600 triliun di 2014 menjadi sekitar Rp8.000 triliun di 2024. Defisit anggaran juga melesat. Rata-rata defisit di era SBY cuma Rp90,9 triliun per tahun, sementara pada periode 2020–2024 angkanya mencapai Rp638,48 triliun. Penyebabnya? Belanja negara yang membengkak, ditambah dampak pandemi.
Penutup: Sejarah Tak Bisa Diputar Ulang
Narasi alternatif ini tentu bukan kebenaran mutlak. Tapi ia jadi semacam refleksi: betapa satu sosok bisa mengubah arah sejarah. Seandainya Jokowi tak pernah memimpin, mungkin Indonesia menghadapi tantangan dan peluang yang sama sekali beda. Tapi ya sudahlah, sejarah tak bisa diputar balik. Yang tersisa sekarang adalah pelajaran untuk masa depan.
Artikel Terkait
Gubernur Sulsel Kucurkan Rp1 Miliar untuk Pemulihan RSUD Syekh Yusuf Gowa Pascakebakaran
Cuaca Makassar 1 Juni 2026 Diprakirakan Cerah Berawan Sepanjang Hari, BMKG: Tak Ada Cuaca Ekstrem
Jerman Hancurkan Finlandia 4-0 dalam Uji Coba Menjelang Piala Dunia 2026
Uruguay Umumkan 26 Pemain Piala Dunia 2026, Luis Suáres Absen