Fakta Ijazah Jokowi & Perlawanan dr. Tifa: Perang Semesta Melawan Hoaks

- Sabtu, 15 November 2025 | 20:50 WIB
Fakta Ijazah Jokowi & Perlawanan dr. Tifa: Perang Semesta Melawan Hoaks

Indonesia adalah negara terlalu besar untuk dikelola dengan manipulasi, terlalu mahal dipertaruhkan dengan kebohongan, dan terlalu berharga untuk dipimpin dengan standar etika rendah. Karena itu, diperlukan keberanian di atas rata-rata sebagai syarat minimum memperbaiki negeri. Keberanian untuk bertanya, menguji, meneliti, dan mengungkap kebenaran.

Jika dalam perkara dugaan pemalsuan ijazah saja rakyat takut menyuarakan kebenaran, bagaimana mungkin bangsa ini bisa menghadapi oligarki, korupsi sistemik, atau perampasan hak rakyat yang skalanya jauh lebih besar?

Dokter Tifa meyakini bahwa jika kasus dugaan pemalsuan ijazah ini tidak diselesaikan secara transparan, ia akan menjadi luka sejarah yang dalam. Perkara ini harus dituntaskan secara ilmiah, terbuka, dan final. Jangan sampai luka seperti ini diwariskan kepada generasi mendatang yang akan bertanya mengapa ketidakjujuran dibiarkan menjadi preseden.

Dalam ketegasannya, dr. Tifa menyatakan keyakinannya bahwa pemerintahan Presiden Prabowo memiliki peluang besar menuntaskan persoalan-persoalan warisan rezim sebelumnya. Keyakinannya sederhana: negara tidak boleh memelihara keraguan publik. Ketika integritas seorang presiden dipertanyakan, negara wajib hadir menyelesaikan, bukan menutup-nutupi.

Langkah dokter Tifa bersama Roy Suryo dan Rismon Sianipar menuju Polda Metro dilakukan dengan tenang dan tanpa beban. Sejak awal, mereka hanya menuntut satu hal: kebenaran. Sesuatu yang seharusnya menjadi kebutuhan semua pihak, termasuk negara. Jika perjuangan ini berujung pada tekanan politik atau risiko hukum, biarlah terjadi. Sejarah membuktikan bahwa kebenaran sering menuntut pengorbanan.

Proses ini diharapkan menjadi momentum pembelajaran nasional untuk mengoreksi kesalahan masa lalu, mengembalikan standar moral bangsa ke titik normal, dan membuktikan komitmen menegakkan keadilan.

Pada akhirnya, perjuangan ini bukan sekadar tentang selembar ijazah. Ini tentang pertanyaan mendasar: apakah Indonesia masih menghargai kejujuran? Masih memiliki keberanian? Dan masih peduli pada integritas?

Jakarta, 15 November 2025


Halaman:

Komentar