Prabowo Tepis Teori Menetesnya Kesejahteraan: Netesnya 300 Tahun Lagi, Kita Sudah Mati

- Senin, 12 Januari 2026 | 15:25 WIB
Prabowo Tepis Teori Menetesnya Kesejahteraan: Netesnya 300 Tahun Lagi, Kita Sudah Mati

Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kritik pedasnya terhadap sebuah konsep ekonomi yang selama ini banyak dianut. Konsep itu, yang sering disebut neoliberal, percaya bahwa kekayaan yang menumpuk di kelompok elit suatu saat akan 'menetes' dengan sendirinya ke lapisan masyarakat bawah. Bagi Prabowo, logika ini bermasalah, terutama untuk konteks Indonesia.

"Cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional itu ya membangun pertumbuhan. Lalu ada pemikiran neoliberal: biar yang kaya enggak apa-apa, 0,1 persen itu. Lama-lama, katanya, karena kekayaan menumpuk di atas, akan menetes ke bawah," ujar Prabowo dalam sambutannya saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat.

Namun begitu, Presiden tak segan menyebut teori itu jauh dari realitas. Baginya, Indonesia punya sejarah panjang dan kondisi sosial yang unik, yang menuntut pendekatan berbeda. Pemerataan, dalam pandangannya, bukan sesuatu yang bisa ditunggu turun dari langit.

"Nah ini teori. Tapi kenyataannya netesnya kapan sampai ke bawah?" tanyanya retoris di hadapan hadirin.

Dengan nada tegas, ia melanjutkan, "Jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya tidak tepat."

Pernyataan itu jelas menolak mentah-mentah inti dari paham neoliberalisme sebuah ideologi yang mendewakan pasar bebas, privatisasi, dan peran negara yang minimal dalam ekonomi. Gagasan yang sejak akhir abad ke-20 ini memang tak pernah lepas dari perdebatan sengit, terutama soal dampaknya terhadap kesenjangan.

Bagi Prabowo, jalan yang harus ditempuh jelas: pertumbuhan dan pemerataan harus berjalan beriringan. Keberhasilan pembangunan, ditegaskannya, tidak bisa cuma dilihat dari angka-angka statistik yang menggembungkan ego nasional. Yang lebih penting adalah bagaimana rakyat kecil merasakan manfaatnya secara nyata.

"Pertumbuhan harus disertai oleh pemerataan. Suatu sistem yang tidak cepat mengusahakan, mengupayakan pemerataan, sistem itu kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa," katanya.

Lebih jauh, ia mengajak semua pihak mengingat kembali fondasi berdirinya republik ini. Tujuan dasar kemerdekaan, yang tertuang jelas dalam Pembukaan UUD 1945, menjadi kompas utama.

"Tujuan kita merdeka adalah untuk membawa kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik untuk seluruh rakyat Indonesia. Berkali-kali pendiri-pendiri bangsa kita menggarisbawahi itu," tegas Prabowo.

Ia kemudian merinci, "Kita harus memajukan kesejahteraan umum. Dan juga yang pertama: melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Melindungi dari apa? Dari ancaman kelaparan, ancaman kemiskinan, ancaman penderitaan, ancaman penyakit. Ini tujuan kita merdeka."

Pidato di Banjarbaru itu bukan sekadar kritik teoritis. Ia lebih mirip pernyataan sikap tentang arah pembangunan ke depan, yang menempatkan keadilan sosial sebagai hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar