Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin lalu, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kritik pedasnya terhadap sebuah konsep ekonomi yang selama ini banyak dianut. Konsep itu, yang sering disebut neoliberal, percaya bahwa kekayaan yang menumpuk di kelompok elit suatu saat akan 'menetes' dengan sendirinya ke lapisan masyarakat bawah. Bagi Prabowo, logika ini bermasalah, terutama untuk konteks Indonesia.
"Cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional itu ya membangun pertumbuhan. Lalu ada pemikiran neoliberal: biar yang kaya enggak apa-apa, 0,1 persen itu. Lama-lama, katanya, karena kekayaan menumpuk di atas, akan menetes ke bawah," ujar Prabowo dalam sambutannya saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat.
Namun begitu, Presiden tak segan menyebut teori itu jauh dari realitas. Baginya, Indonesia punya sejarah panjang dan kondisi sosial yang unik, yang menuntut pendekatan berbeda. Pemerataan, dalam pandangannya, bukan sesuatu yang bisa ditunggu turun dari langit.
"Nah ini teori. Tapi kenyataannya netesnya kapan sampai ke bawah?" tanyanya retoris di hadapan hadirin.
Dengan nada tegas, ia melanjutkan, "Jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya tidak tepat."
Pernyataan itu jelas menolak mentah-mentah inti dari paham neoliberalisme sebuah ideologi yang mendewakan pasar bebas, privatisasi, dan peran negara yang minimal dalam ekonomi. Gagasan yang sejak akhir abad ke-20 ini memang tak pernah lepas dari perdebatan sengit, terutama soal dampaknya terhadap kesenjangan.
Artikel Terkait
Prabowo Resmikan Kilang Balikpapan, Kapasitas Melonjak dan Impor Solar Ditargetkan Berhenti
Pemerintah Perluas Program Cetak Sawah di Papua, Usulan dari Daerah Jadi Kunci
Amran Sulaiman: Bulog Siap Serap Gabah 4 Juta Ton dengan Harga Satu Kualitas
IHSG Terguncang, Saham Konglomerasi Ambruk dalam Hitungan Menit