Di tengah riuh acara Idul Fitri FunFest 2026 yang digelar Ikatan Alumni ITS, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan kabar yang cukup menggembirakan. Ia memproyeksikan stok beras nasional bakal tembus angka 5 juta ton dalam waktu dekat. "Bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita," ujarnya dengan nada optimis.
Menurutnya, capaian ini adalah sesuatu yang luar biasa. "Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka," tegas Amran di hadapan para alumni.
Namun begitu, sorotan pidatonya tidak berhenti di angka-angka itu. Ia justru mengalihkan perhatian pada peran yang harus diambil oleh dunia pendidikan tinggi. Bagi Amran, momentum swasembada ini harus diikuti dengan aksi nyata dari kampus. Bukan sekadar seremoni.
"Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni," ungkapnya tegas.
Ia mengakui, kekuatan riset di dalam negeri sebenarnya sudah mumpuni. Persoalannya, menurut dia, terletak pada tahap hilirisasi. Inovasi yang dihasilkan kerap mandek di laboratorium, tidak sampai menyentuh pasar dan petani di lapangan.
"Kelemahan kita di kampus adalah tidak mampu mengkomunikasikan apa yang kita ciptakan dan harus melihat pasar," jelas Mentan.
Amran lantas memberi contoh konkret. Ia menyebut traktor perahu karya ITS yang sudah jadi. "Nah ini traktor perahu. Sudah, diperbaiki terus, rekayasa kita adakan," katanya. Tapi itu baru awal. Ia mendorong agar inovasi seperti itu diproduksi massal.
Pemerintah, janjinya, siap menyerap hasil karya anak bangsa. Syaratnya, kampus harus berani memproduksi dalam skala besar dan menjamin kualitasnya. "Kami ingin ITS terdepan. Bisa ya?" tantangnya.
Di sisi lain, Amran juga menekankan bahwa kesuksesan produksi beras ini adalah hasil kerja kolektif. "Ini kerja kita semua. Ini kerja bersama. Bukan saya," ucapnya merendah. Dampaknya pun terasa hingga ke tingkat global. Berbeda dengan masa lalu dimana Indonesia rutin mengimpor, kini justru bisa mempengaruhi pasar.
"Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun," jelasnya.
Menutup pernyataannya, ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi. Baginya, tidak ada lagi sekat-sekat institusi. "Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS. kita harus kolaborasi, demi Merah Putih," serunya.
Ajakan terakhirnya jelas: fokus pada hilirisasi yang berbasis kebutuhan riil negara. "Ayo kita bergerak di hilirisasi, meneliti sesuai kebutuhan negara," pungkas Amran mengakhiri.
Artikel Terkait
MUI: Penggunaan APBN untuk Hewan Kurban Presiden Tidak Melanggar Syariat Islam
Remaja 19 Tahun Tega Bunuh dan Cabuli Bocah SD di Makassar, Polisi Tangkap Pelaku Saat Buat Keributan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas
Polisi Maros Bekuk 10 Anggota Geng Motor yang Serang Warga dengan Panah dan Senjata Tajam