Presiden Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI di Munas ke-16

- Sabtu, 11 April 2026 | 21:00 WIB
Presiden Prabowo Mundur dari Ketua Umum IPSI di Munas ke-16

Di tengah riuh Munas PB IPSI ke-16 di JCC Senayan, Sabtu lalu, Presiden Prabowo Subianto membuat pengumuman yang cukup mengejutkan. Ia memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum. Padahal, namanya masih terus didorong untuk memimpin lagi periode 2026-2030. Tapi, pria berusia 74 tahun itu bersikukuh. Ia memilih menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan IPSI kepada yang lain.

Fokus utama pertemuan nasional itu sebenarnya dua: menyusun road map agar pencak silat bisa segera berlaga di Olimpiade, dan tentu saja, memilih nakhoda baru. Namun, keputusan Prabowo untuk mundur jelas menjadi perhatian utama para peserta yang hadir.

Usai menyampaikan keputusannya, Prabowo lalu berbagi cerita. Suasana jadi lebih santai. Ia bercerita soal ikatan keluarganya yang sangat dalam dengan dunia persilatan.

“Saya ingin sedikit nostalgia,” ujarnya memulai.

“Kakek saya salah satu penggemar dan pendiri perguruan 'Setia Hati' di Madiun, itu tahun sebelum kemerdekaan. Beliau latihan sampai lanjut usia di ruangannya, pernapasan dan sebagainya.”

“Kemudian orangtua saya juga salah satu pembina Pengurus Besar IPSI, cukup lama. Jadi bagi saya, pencak silat ini semacam panggilan sebagai anak bangsa,” sambung Presiden.

Lingkungan keluarga itu rupanya sangat berguna di kemudian hari. Saat berkarier di militer, kemampuan bela dirinya langsung terasah. Di Akademi Militer dulu, para taruna memang diwajibkan belajar berbagai jenis bela diri.

“Kita diwajibkan belajar judo, tinju, dan pencak silat sudah mulai diajarkan. Hampir semua. Anggar pun wajib,” kenangnya.

“Jadi saudara-saudara, saya kira ini alamiah. Begitu masuk dinas pertama di Pasukan Khusus, di Baret Merah, juga diwajibkan belajar pencak silat. Dulu salah satu pembina Angkatan Darat juga pembina Merpati Putih. Jadi kita semua harus belajar Merpati Putih,” tambah Prabowo.

Di sinilah suasana makin cair. Prabowo melontarkan kelakar tentang masa mudanya. Ia mengaku dulu bisa melakukan atraksi ‘Mata-Matah’, yaitu mematahkan benda keras seperti batu bata atau beton.

“Dulu masih ada bekas-bekas luka sedikit,” katanya disambut tawa hadirin.

“Jadi bisa dikatakan bahwa memang pencak silat itu bagian dari panggilan saya.”

Munas yang diikuti perwakilan dari 38 provinsi dan berbagai perguruan silat itu juga dihadiri sejumlah menteri Kabinet. Tampak hadir Menpora Erick Thohir, Menlu Sugiono, Mensesneg Prasetyo Hadi, hingga Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo. Mereka menyaksikan momen transisi sekaligus nostalgia yang cukup hangat dari sang Presiden.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar