Tak cuma soal militer, Araghchi juga menyoroti isu ekonomi. Dia memperingatkan bahwa pejabat AS kerap memanipulasi pasar dengan menyebar berita palsu. "Ini tidak akan menyelamatkan mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika," katanya tegas.
Faktanya, pasar sedang menghadapi kerugian dan kesenjangan terbesar sepanjang sejarah lebih buruk dari embargo minyak Arab 1973, lebih parah dari Revolusi Islam Iran 1979, bahkan melebihi krisis akibat invasi Irak ke Kuwait tahun 1990.
Sebelumnya, di platform yang sama, Araghchi sudah membantah keras segala klaim bahwa Iran berniat menyerang AS atau pasukannya. Menurutnya, itu cuma kebohongan belaka.
"Satu-satunya tujuan kebohongan ini adalah membenarkan 'operasi kesalahan besar' sebuah petualangan berbahaya yang dirancang Israel dan dibiayai oleh warga Amerika biasa," tukasnya.
Jadi, suasana memang sedang tegang. Dari Tehran sampai Tel Aviv, perang kata-kata dan rudal berjalan beriringan. Dan seperti kata Araghchi, mungkin ini benar-benar baru awal.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer