Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tak main-main. Lewat akun X-nya, Selasa lalu, dia mengecam habis rezim Israel yang disebutnya menyensor habis-habisan dampak serangan balasan Iran. Intinya sederhana: Netanyahu tak mau dunia melihat hasilnya.
"Netanyahu tidak ingin Anda melihat bagaimana Angkatan Bersenjata Iran yang kuat menghukum Israel atas agresinya," ujar Araghchi, seperti dilaporkan Press TV.
Dia bahkan menyebut punya laporan langsung dari lapangan. "Kehancuran total akibat rudal kami, pemimpin yang panik, pertahanan udara mereka kacau balau," bebernya. Dan dia menegaskan, ini baru permulaan. "Kita baru saja memulai," tandasnya.
Semua ini berawal dari agresi militer AS dan Israel pada 28 Februari lalu serangan tanpa provokasi yang menewaskan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan sejumlah komandan tinggi militer. Iran pun tak tinggal diam. Balasan datang cepat: rentetan rudal dan drone menghujani wilayah pendudukan Israel serta pangkalan-pangkalan AS di kawasan.
Di sisi lain, sensor militer Israel berusaha mati-matian menutupi semua informasi. Upaya mereka terbilang ekstensif, hampir menyeluruh. Tapi rupanya, upaya pengendalian narasi itu tak sepenuhnya berhasil.
Beberapa media berbahasa Ibrani terpaksa mengakui adanya "korban jiwa." Pengakuan itu sekaligus jadi petunjuk: serangan Iran kali ini memang memberi pukulan serius, bahkan bisa dibilang belum pernah terjadi sebelumnya, kepada entitas tersebut.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer