Peringatan dari negara-negara Teluk ini muncul setelah AS memberi isyarat pada sekutunya untuk bersiap. Instruksi itu justru memicu kecemasan mendalam. Mereka gelisah dengan keamanan infrastruktur minyak mereka, takut jadi sasaran empuk. Bahkan, khawatir dengan rudal-rudal nyasar yang bisa jatuh di wilayah mereka kapan saja.
Pesan yang disampaikan ke Washington tegas. Upaya untuk menggoyang atau menjatuhkan pemerintahan di Teheran hanya akan berakhir buruk. Pasar minyak dunia bakal jungkir balik, harga melambung tak terkendali, dan inflasi global akan menghantam termasuk ekonomi AS sendiri. Singkatnya, itu adalah strategi yang berisiko tinggi dan hasilnya sulit diprediksi.
Yang menarik, Arab Saudi juga konon sudah menyiapkan sikap mereka sendiri jika perang benar-benar pecah. Mereka memastikan pada Teheran bahwa mereka akan bersikap netral. Bahkan, secara resmi Riyadh menolak memberikan izin bagi pesawat militer AS untuk melintasi wilayah udaranya untuk menyerang Iran. Ini langkah diplomatik yang cukup jelas garis batasnya.
Pada akhirnya, pesan dari kawasan Teluk ini adalah seruan untuk pertimbangan matang. Mereka memperingatkan bahwa memaksakan perubahan rezim di Iran bukan hanya akan merusak stabilitas regional, tapi juga bisa memicu perang berkepanjangan yang mustahil dikendalikan. Sebuah konflik yang konsekuensinya akan dipikul oleh semua pihak, tanpa terkecuali.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Israel Soal Nasib Khamenei, Sebut Perang Mental
Netanyahu Perintahkan Persiapan Darurat Menghadapi Eskalasi dengan Iran
Trump Naikkan Tarif Global Jadi 15% Usai Dibatalkan Mahkamah Agung
Iran Tegaskan Hanya Diplomasi Solusi untuk Isu Nuklir, Peringatkan Konsekuensi Militer