Ketegangan di Teluk kembali memanas. Kali ini, bukan sekadar cekcok diplomatis biasa. Menurut laporan yang beredar, Arab Saudi diam-diam menggalang dukungan dari tetangganya, seperti Oman dan Qatar, untuk menyampaikan pesan keras ke Washington. Intinya sederhana tapi serius: hentikan rencana serangan militer ke Iran.
Mereka tak main-main. Bagi Riyadh dan sekutunya, langkah AS itu ibarat membakar rumah sendiri. Konsekuensinya bisa jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan.
“Kami sangat khawatir dengan dampak ekonominya,” begitu kira-kira salah satu poin yang disampaikan, merujuk pada laporan dari The Wall Street Journal. Tapi kekhawatiran mereka lebih dari sekadar angka-angka di pasar saham. Ada ketakutan nyata akan kerusuhan dalam negeri, terutama jika serangan itu sampai menewaskan atau menyasar pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Situasinya bisa langsung meledak.
Di sisi lain, ada satu titik rawan yang membuat semua orang tegang: Selat Hormuz. Perairan sempit ini adalah urat nadi minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah global harus melewati selat ini setiap harinya. Bayangkan jika jalur vital itu macet atau bahkan ditutup karena konflik. Guncangannya akan terasa di seluruh penjuru dunia, dari pom bensin sampai pabrik-pabrik.
Artikel Terkait
India Desak Ribuan Warganya di Iran Segera Pulang, Situasi Makin Mencekam
Eropa Waspada: AS Berpotensi Serang Iran dalam 24 Jam
Jaksa Korea Selatan Tuntut Hukuman Mati untuk Mantan Presiden Yoon Suk-yeol
Rakyat Iran Tercekik: Rupiah Lebih Berharga daripada Rial