Di sisi lain, laporan-laporan media AS sebelumnya juga mengonfirmasi bahwa pemerintah mereka memang sedang meninjau opsi militer untuk Teheran. Nah, klaim terbaru dari pejabat Eropa yang enggan disebut namanya ini seolah memberi tenggat waktu yang mengerikan: serangan bisa dimulai dalam sehari. Kabar ini langsung memicu gelombang diplomasi darurat di belahan dunia lain.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk, misalnya, dikabarkan sedang berusaha keras melobi Washington. Mereka khawatir betul. Konflik terbuka bakal mengacaukan pasar minyak dan berpotensi memicu perang regional yang lebih luas skenario yang ingin dihindari siapa pun.
Semua ini berlangsung dalam konteks protes yang belum reda di Iran, yang awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi sejak akhir Desember lalu. Pemerintah Iran sendiri dengan tegas menyalahkan AS dan Israel sebagai dalang di balik gejolak ini.
Bagi negara tetangga seperti Turki, yang sangat menekankan stabilitas kawasan dan menolak intervensi asing, ancaman serangan mendadak AS ini ibarat mimpi buruk. Risikonya jelas: konflik dahsyat yang bisa dengan mudah merembet, melintasi batas-batas negara, dan akhirnya mengguncang seluruh Timur Tengah. Situasinya benar-benar di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Jaksa Korea Selatan Tuntut Hukuman Mati untuk Mantan Presiden Yoon Suk-yeol
Rakyat Iran Tercekik: Rupiah Lebih Berharga daripada Rial
Pria Tertua Arab Saudi Wafat di Usia 142, Ribuan Pelayat Antarkan Kepergiannya
Analis Rusia: Perang Dunia Ketiga Telah Dimulai, Bentuknya Tak Lagi Konvensional