Ketegangan di Iran makin memuncak. Dan sekarang, ada kabar yang bikin was-was dari para pejabat Eropa. Mereka meyakini Amerika Serikat bisa saja melancarkan serangan militer terhadap Iran dalam waktu 24 jam ke depan. Klaim ini beredar setelah Donald Trump, lewat media sosial, terus mengeluarkan pernyataan yang mendukung para demonstran di sana.
Ya, situasinya memang panas. Sudah berhari-hari mantan Presiden AS itu terlibat langsung lewat cuitan-cuitannya. Pernyataannya dianggap provokatif dan jadi sinyal kuat kemungkinan intervensi Washington.
“Bantuan sedang dalam perjalanan. Patriot Iran, teruslah berdemonstrasi – ambil alih institusi-institusi kalian,” tulis Trump dalam satu unggahan.
Ia bahkan menyerukan agar para demonstran merekam nama-nama pelaku kekerasan. Mereka, kata Trump, akan membayar harga yang sangat mahal. Tak heran jika banyak yang membaca ini sebagai ancaman yang lebih dari sekadar dukungan moral.
Di sisi lain, laporan-laporan media AS sebelumnya juga mengonfirmasi bahwa pemerintah mereka memang sedang meninjau opsi militer untuk Teheran. Nah, klaim terbaru dari pejabat Eropa yang enggan disebut namanya ini seolah memberi tenggat waktu yang mengerikan: serangan bisa dimulai dalam sehari. Kabar ini langsung memicu gelombang diplomasi darurat di belahan dunia lain.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk, misalnya, dikabarkan sedang berusaha keras melobi Washington. Mereka khawatir betul. Konflik terbuka bakal mengacaukan pasar minyak dan berpotensi memicu perang regional yang lebih luas skenario yang ingin dihindari siapa pun.
Semua ini berlangsung dalam konteks protes yang belum reda di Iran, yang awalnya dipicu oleh keluhan ekonomi sejak akhir Desember lalu. Pemerintah Iran sendiri dengan tegas menyalahkan AS dan Israel sebagai dalang di balik gejolak ini.
Bagi negara tetangga seperti Turki, yang sangat menekankan stabilitas kawasan dan menolak intervensi asing, ancaman serangan mendadak AS ini ibarat mimpi buruk. Risikonya jelas: konflik dahsyat yang bisa dengan mudah merembet, melintasi batas-batas negara, dan akhirnya mengguncang seluruh Timur Tengah. Situasinya benar-benar di ujung tanduk.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April