AS Desak Warga Segera Tinggalkan Iran di Tengah Ancaman Serangan dan Korban Jiwa yang Meningkat

- Selasa, 13 Januari 2026 | 07:50 WIB
AS Desak Warga Segera Tinggalkan Iran di Tengah Ancaman Serangan dan Korban Jiwa yang Meningkat

Lalu, berapa sebenarnya korban yang telah jatuh? Angkanya simpang siur. Beberapa lembaga HAM internasional menyebut ratusan orang tewas. Tapi PBB, meski mengakui ada korban jiwa, belum bisa memastikan jumlah pastinya.

Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengaku pihaknya masih bisa berkomunikasi dengan rekan di lapangan. Namun verifikasi data sulit dilakukan.

"Kami tidak memiliki angka pasti yang bisa diverifikasi, tetapi jelas bagi kami bahwa sejumlah orang, sejumlah warga sipil, telah tewas," ujarnya.

Sementara itu, sebuah sumber dari dalam pasukan keamanan Iran punya angka yang lebih mengerikan. Menurutnya, lebih dari 500 orang telah meninggal sejak kerusuhan pecah. Korban itu termasuk 110 aparat polisi dan anggota Garda Revolusi.

Semua ini berawal dari krisis ekonomi. Demonstrasi pertama meletus pada 28 Desember tahun lalu, dipicu inflasi yang meroket dan melemahnya nilai tukar Rial. Rakyat geram karena harga-harga melambung tak terkendali. Tekanan itu bahkan memaksa Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, mundur dari jabatannya.

Keruhnya situasi makin menjadi setelah Reza Pahlavi putra mantan Syah Iran ikut bersuara. Sejak 8 Januari, aksi protes makin intens. Pemerintah merespons dengan cara yang kini jadi langganan: memblokir akses internet. Dunia luar pun kesulitan melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam.


Halaman:

Komentar