Tak pelak, pejabat Iran geram. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, langsung memberi peringatan balasan.
“Jika terjadi serangan terhadap Iran, baik wilayah yang diduduki maupun seluruh pusat, pangkalan, dan kapal militer Amerika di wilayah tersebut akan menjadi target sah kami,” tegas Ghalibaf.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, punya tuduhan lain. Dia menuding AS dan Israel berada di balik kerusuhan, dan membawa masuk "teroris" yang menghancurkan fasilitas publik.
“Keluarga-keluarga, saya mohon: jangan biarkan anak-anak Anda bergabung dengan perusuh dan teroris yang memenggal kepala orang dan membunuh orang lain,” kata Pezeshkian dalam sebuah wawancara televisi, menunjukkan sikap yang semakin keras.
Malam Ahad lalu, pemerintah mengumumkan tiga hari berkabung nasional untuk "para syuhada", termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas. Pezeshkian juga mendesak masyarakat ikut "pawai perlawanan nasional" pada Senin untuk mengecam kekerasan yang oleh pemerintah disebut sebagai ulah "penjahat teroris perkotaan".
Gerakan protes kali ini adalah yang terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir. Awalnya dipicu oleh anjloknya nilai mata uang, tapi tuntutan para demonstran dengan cepat merambat ke tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah.
Memang rezim ini pernah menghadapi gelombang protes massal sebelumnya. Tapi analis menyebut kerusuhan sekarang ini terjadi saat pemerintah sedang lemah diterpa krisis ekonomi dan efek perang dengan Israel musim panas lalu. Pihak berwenang sudah mulai menangkapi para pentolan gerakan.
“Tadi malam, terjadi penangkapan besar-besaran terhadap unsur-unsur utama kerusuhan, yang Insya Allah akan dihukum setelah melalui prosedur hukum,” kata Kapolri Ahmad-Reza Radan di TV pemerintah, tanpa merinci jumlahnya.
Jaksa Agung Iran bahkan sudah mengeluarkan ancaman serius: mereka yang protes, atau sekadar membantu pengunjuk rasa, bisa dituduh sebagai "musuh Tuhan" sebuah dakwaan yang ujung-ujungnya bisa hukuman mati. Di kubu AS, ancaman Trump dapat dukungan. Senator Lindsey Graham, misalnya, menulis di media sosial bahwa "mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir".
Suasana memang mencekam. Dan semua pihak kini menunggu, langkah apa selanjutnya yang akan diambil Washington.
Artikel Terkait
Rusia Klaim Tumbangkan F-16 Ukraina dengan Rudal S-300
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Waspadai Perburuan Pasca Penangkapan Maduro
AS Desak Warganya Tinggalkan Venezuela, Situasi Keamanan Dinilai Memuncak
Latihan Militer Tiga Negara di Afrika Selatan: Sinyal di Tengah Gejolak Global