Ahok Desak Jaksa Periksa Erick Thohir dan Jokowi Soal Pencopotan Dirut Pertamina

- Selasa, 27 Januari 2026 | 15:50 WIB
Ahok Desak Jaksa Periksa Erick Thohir dan Jokowi Soal Pencopotan Dirut Pertamina

Di ruang sidang yang sunyi itu, suara Basuki Tjahaja Purnama lebih dikenal sebagai Ahok terdengar lantang. Ia tak cuma menjawab pertanyaan jaksa. Dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi minyak mentah Pertamina, Selasa lalu, mantan Komisaris Utama BUMN itu justru melemparkan isu yang lebih besar. Ia mendorong jaksa untuk memeriksa dua nama besar: Erick Thohir, mantan MenBUMN, dan Presiden Joko Widodo.

Dorongan itu muncul saat jaksa penuntut umum mempertanyakan status dua mantan direktur anak usaha Pertamina dalam berkas saksi. Dua nama itu adalah Joko Priyono dari Kilang Pertamina Internasional dan Mas’ud Khamid dari Pertamina Patra Niaga. Menurut catatan Ahok, keduanya "telah dicopot".

"Ada masalah tidak dengan dua orang ini?" tanya jaksa, mencoba mengulik.

Ahok malah memuji. Bagi dia, Joko dan Mas’ud adalah aset terbaik yang pernah dimiliki Pertamina. "Bagi saya dua saudara ini adalah dirut yang terhebat," ujarnya tegas. Ia menggambarkan Mas’ud Khamid sebagai orang yang punya prinsip kuat. Bahkan, lebih memilih dipecat daripada menandatangani proses pengadaan yang dianggapnya bermasalah.

"Termasuk soal aditif ini, Pak Mas’ud ini lebih baik dipecat daripada tanda tangan kalau ada penyimpangan pengadaan. Makanya saya bilang ini salah satu terbaik yang kita punya."

Sementara Joko Priyono, disebut Ahok sebagai orang kilang tulen. Pengetahuannya mendalam. "Dia yang kasih tahu saya kelemahan kilang, apa yang mau diperbaiki," jelas Ahok. Ia bahkan mengaku hampir menangis ketika tahu Joko dicopot dari posisinya.

Pencopotan itu, dalam pandangannya, adalah bentuk kesewenang-wenangan. Ia sempat menelepon Joko. "Dia bilang, ‘Pak, sudahlah Pak, saya di Yogya saja.’" Ahok geleng-geleng. "Saya pikir BUMN ini keterlaluan, mencopot orang yang bukan karena meritokrasi."

Nah, dari situlah kemarahannya muncul. Karena merasa ada yang tidak beres, Ahok pun mendesak jaksa untuk menyelidiki lebih jauh. Ia ingin tahu alasan sebenarnya di balik keputusan mencopot dua orang kompeten tersebut.

"Makanya saya selalu bilang ke pak jaksa, kenapa saya mau lapor ke jaksa? Periksa sekalian BUMN, periksa Presiden bila perlu. Kenapa orang terbaik dicopot?"

Pernyataan blak-blakan itu sempat memicu tepuk tangan dari sejumlah pengunjung sidang. Situasi pun ricuh sejenak. Hakim ketua sidang langsung memberi teguran. "Tolong pengunjung bisa tertib. Ini persidangan, bukan hiburan. Tolong jangan bertepuk tangan," tegasnya.

Di sisi lain, jaksa penuntut umum tampaknya tak sependapat. Menurut mereka, desakan Ahok untuk memeriksa pejabat tinggi itu tidak relevan dengan maksud pemeriksaan saksi dalam perkara ini. "Itu kan fakta dari keterangan saksi. Namun saksi sendiri tidak menjelaskan fakta yang mana, detail perbuatan seperti apa," jawab jaksa. Intinya, tidak ada dokumen pendukung yang diajukan Ahok untuk membuktikan kaitan itu.

Meski begitu, pernyataan Ahok di persidangan telah menyisakan tanda tanya besar. Ia seperti melempar batu ke kolam yang tenang. Ripplenya bisa meluas ke mana-mana. Sidang korupsi ini, yang awalnya fokus pada pengelolaan minyak mentah, tiba-tiba menyentuh soal tata kelola dan kepemimpinan di tubuh BUMN. Dan dua nama yang disebut Erick Thohir dan Jokowi tentu bukan nama sembarangan.

Kini, bola ada di pengadilan. Apakah dorongan Ahok hanya akan jadi pernyataan dramatis di ruang sidang, atau benar-benar akan ditindaklanjuti? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar