Di ruang sidang yang sunyi itu, suara Basuki Tjahaja Purnama lebih dikenal sebagai Ahok terdengar lantang. Ia tak cuma menjawab pertanyaan jaksa. Dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi minyak mentah Pertamina, Selasa lalu, mantan Komisaris Utama BUMN itu justru melemparkan isu yang lebih besar. Ia mendorong jaksa untuk memeriksa dua nama besar: Erick Thohir, mantan MenBUMN, dan Presiden Joko Widodo.
Dorongan itu muncul saat jaksa penuntut umum mempertanyakan status dua mantan direktur anak usaha Pertamina dalam berkas saksi. Dua nama itu adalah Joko Priyono dari Kilang Pertamina Internasional dan Mas’ud Khamid dari Pertamina Patra Niaga. Menurut catatan Ahok, keduanya "telah dicopot".
"Ada masalah tidak dengan dua orang ini?" tanya jaksa, mencoba mengulik.
Ahok malah memuji. Bagi dia, Joko dan Mas’ud adalah aset terbaik yang pernah dimiliki Pertamina. "Bagi saya dua saudara ini adalah dirut yang terhebat," ujarnya tegas. Ia menggambarkan Mas’ud Khamid sebagai orang yang punya prinsip kuat. Bahkan, lebih memilih dipecat daripada menandatangani proses pengadaan yang dianggapnya bermasalah.
Sementara Joko Priyono, disebut Ahok sebagai orang kilang tulen. Pengetahuannya mendalam. "Dia yang kasih tahu saya kelemahan kilang, apa yang mau diperbaiki," jelas Ahok. Ia bahkan mengaku hampir menangis ketika tahu Joko dicopot dari posisinya.
Pencopotan itu, dalam pandangannya, adalah bentuk kesewenang-wenangan. Ia sempat menelepon Joko. "Dia bilang, ‘Pak, sudahlah Pak, saya di Yogya saja.’" Ahok geleng-geleng. "Saya pikir BUMN ini keterlaluan, mencopot orang yang bukan karena meritokrasi."
Artikel Terkait
BPK Finalisasi Hitung Kerugian Negara dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Noel Beri Sinyal Bahaya ke Purbaya: Hati-hati, Nasib Anda Bisa Seperti Saya
Noel Bocorkan Keterlibatan Partai dan Ormas dalam Kasus Sertifikasi K3
Damai Hari Lubis Laporkan Ahmad Khoizinudin ke Polda Metro Jaya Soal Tudingan KUHAP Solo