TERUNGKAP! Kronologi Penipuan Avanza Rp 100 Juta yang Bikin Pak Tarno Terpuruk, Kini Uangnya Sangat Dibutuhkan untuk...

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 16:50 WIB
TERUNGKAP! Kronologi Penipuan Avanza Rp 100 Juta yang Bikin Pak Tarno Terpuruk, Kini Uangnya Sangat Dibutuhkan untuk...

Kasus Penipuan Pak Tarno: Kronologi Uang Rp 100 Juta Raib untuk Beli Mobil Avanza

Korban penipuan Pak Tarno mengalami kerugian hingga Rp 100 juta dalam kasus penipuan mobil Avanza yang terjadi pada tahun 2012. Kini, uang tersebut sangat dibutuhkan untuk biaya pengobatan kesehatannya yang semakin menurun.

Kronologi Penipuan Mobil Avanza Pak Tarno

Kasus penipuan ini bermula ketika Pak Tarno mendapat tawaran menggiurkan untuk membeli mobil Toyota Avanza dengan harga Rp 100 juta. Saat itu, Pak Tarno sedang berada di puncak karier dan berencana menggunakan uang tersebut untuk membeli kendaraan keluarga.

Namun setelah menyerahkan uang sebesar Rp 100 juta kepada terduga pelaku, mobil yang dijanjikan tak kunjung datang. Uang yang sudah diberikan pun tidak kembali, meskipun pelaku sempat mengembalikan Rp 1 juta dari total Rp 5 juta yang dijanjikan.

Kondisi Terkini Pak Tarno dan Upaya Penyelesaian

Setelah lebih dari 10 tahun berlalu, Pak Tarno kini membutuhkan uang tersebut untuk biaya pengobatan. Pengacaranya, Hendro Widodo, menyatakan bahwa kondisi ekonomi Pak Tarno semakin terpuruk dan membutuhkan bantuan untuk biaya berobat sehari-hari.

Hendro Widodo sebagai pengacara Pak Tarno berharap ada itikad baik dari terduga pelaku untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka menginginkan penyelesaian yang dapat membantu Pak Tarno mendapatkan kembali uangnya untuk kebutuhan pengobatan yang mendesak.

Kasus penipuan mobil bekas seperti ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam transaksi pembelian kendaraan bermotor dan selalu memverifikasi keaslian penjual sebelum melakukan pembayaran.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar