Harga emas dunia diperkirakan akan mengalami tekanan jual dalam jangka pendek setelah gagal mempertahankan momentum penguatannya di area resisten krusial. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, mengidentifikasi munculnya sinyal pelemahan pada pergerakan XAU/USD yang mengindikasikan potensi koreksi harga.
Dalam analisis teknikal pada kerangka waktu H4, harga emas sempat menyentuh level resisten kuat di area 4.749. Namun, setelah mencapai titik tersebut, harga kehilangan tenaga dan mulai menunjukkan tanda-tanda koreksi. Kondisi ini terlihat dari terbentuknya swing high, atau titik puncak sementara, yang menjadi sinyal bahwa tekanan beli mulai melemah.
"Selain itu, muncul pola candlestick bearish engulfing yang semakin memperkuat potensi penurunan harga dalam jangka pendek. Pola ini biasanya menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mendominasi pasar setelah sebelumnya harga mengalami kenaikan cukup tinggi," kata Geraldo dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 8 Mei 2026.
Geraldo menilai bahwa saat ini harga emas berpotensi memasuki fase secondary trend atau koreksi sementara. Menurutnya, penurunan yang terjadi masih dianggap sebagai bagian normal dari pergerakan pasar setelah reli yang cukup panjang dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam proyeksi jangka pendek, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support terdekat di level 4.643. Area tersebut menjadi titik penting yang akan diperhatikan pelaku pasar untuk melihat apakah tekanan jual masih akan berlanjut atau justru mulai mereda.
Sementara itu, indikator stochastic juga masih menunjukkan arah pelemahan dan bergerak menuju area oversold atau jenuh jual. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan turun masih cukup kuat untuk sementara waktu sebelum nantinya muncul peluang rebound atau pembalikan arah.
"Meski demikian, koreksi harga emas saat ini belum tentu menandakan perubahan tren utama. Selama belum ada tekanan besar yang mengubah struktur pasar secara keseluruhan, peluang penguatan emas dalam jangka menengah masih tetap terbuka," ungkapnya.
Dari sisi fundamental, pelemahan harga emas saat ini juga dipengaruhi oleh aksi profit taking dari investor. Setelah harga emas mengalami kenaikan cukup tinggi sebelumnya, sebagian pelaku pasar memilih mengambil keuntungan dengan menjual posisi mereka. Kondisi ini membuat tekanan jual meningkat dan memicu koreksi harga.
Selain itu, Geraldo mengungkapkan, penguatan sementara dolar Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan terhadap emas. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya menjadi lebih mahal bagi investor global, sehingga minat beli cenderung berkurang.
"Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga menjadi faktor lain yang menekan pergerakan emas. Investor biasanya lebih tertarik masuk ke instrumen yang memberikan imbal hasil tetap ketika yield obligasi naik. Hal ini membuat daya tarik emas sebagai aset non-yield menjadi sedikit berkurang," ujarnya.
Di sisi lain, sentimen pasar global yang mulai membaik juga memengaruhi permintaan terhadap emas. Ketika kondisi pasar lebih stabil dan ketegangan geopolitik mereda, investor biasanya mulai berani masuk ke aset yang lebih berisiko sehingga kebutuhan terhadap aset safe haven seperti emas ikut menurun.
Walaupun begitu, emas masih memiliki peluang untuk kembali menguat apabila ketidakpastian global kembali meningkat atau dolar AS melemah dalam beberapa waktu ke depan. Karena itu, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan ekonomi global dan kebijakan Federal Reserve yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas selanjutnya.
"Secara keseluruhan, harga emas saat ini diperkirakan masih berada dalam fase koreksi jangka pendek dengan potensi penurunan menuju level 4.643. Namun selama tekanan jual tidak berkembang lebih besar, peluang rebound tetap terbuka dalam beberapa waktu mendatang," kata dia.
Artikel Terkait
50 Biksu dari Thailand, Laos, dan Malaysia Tiba di Bali untuk Perjalanan Spiritual Indonesia Walk for Peace 2026
Mensos Gus Ipul Klarifikasi Pengadaan Sepatu Rp27 Miliar untuk Sekolah Rakyat: Anggaran 2025, 2026 Belum Dilelang
Kejaksaan Agung Hormati Vonis Bebas Tiga Terdakwa Korupsi Kredit Sritex
Menteri Perindustrian Bantah PHK Besar-besaran, Sebut Sektor Manufaktur Serap 20 Juta Tenaga Kerja