Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita membantah anggapan bahwa sektor manufaktur nasional tengah dilanda gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran, seraya menegaskan bahwa kinerja industri ini tetap kokoh di tengah tekanan ekonomi global.
Menurut Agus, memang terjadi PHK di sejumlah perusahaan, tetapi jumlah penyerapan tenaga kerja baru jauh lebih besar dibandingkan angka pemutusan hubungan kerja yang terjadi. “Data kami menunjukkan penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur masih jauh lebih tinggi dibanding PHK,” ujarnya saat meresmikan Gedung Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) di Badung, Jumat.
Hingga Februari 2026, sektor perusahaan manufaktur berhasil menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja. Angka tersebut, menurut Agus, menjadi bukti bahwa industri manufaktur nasional masih tumbuh dan tetap menjadi salah satu motor utama perekonomian Indonesia. Ketahanan sektor ini, lanjutnya, sudah teruji sejak pandemi COVID-19, ketika industri manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling cepat pulih dibandingkan sektor ekonomi lainnya.
Sementara itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan industri manufaktur pada triwulan I 2026 mencapai 5,04 persen. Capaian itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 4,55 persen. Di sisi lain, kontribusi perusahaan manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga tetap dominan. Pada kuartal pertama 2026, sektor ini menyumbang sekitar 19,07 persen terhadap PDB nasional dengan nilai mencapai Rp1.179 triliun.
Agus menegaskan, data tersebut sekaligus membantah narasi bahwa Indonesia sedang mengalami deindustrialisasi dini. “Kontribusi manufaktur terhadap ekonomi nasional justru terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Dari sisi investasi, sektor manufaktur juga masih menjadi magnet utama penanaman modal. Pada triwulan I 2026, realisasi investasi di industri manufaktur mencapai Rp182 triliun atau setara 36,5 persen dari total investasi nasional. Tak hanya itu, sektor perusahaan manufaktur juga mendominasi ekspor Indonesia. Berdasarkan data BPS periode Januari hingga Februari 2026, ekspor produk manufaktur menyumbang 83,6 persen dari total ekspor nasional.
“Artinya, sebagian besar ekspor Indonesia berasal dari produk manufaktur. Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor manufaktur bagi perekonomian nasional,” ujar Agus.
Artikel Terkait
Mensos Gus Ipul Konsultasi ke KPK untuk Antisipasi Korupsi di Program Sekolah Rakyat
Perempuan di Surabaya Diduga Sekap dan Kuras Harta Pacar Lansia Ayah Sendiri Selama Setahun
Pemerintah Targetkan Indonesia Bebas ODOL pada 1 Januari 2027
Dua Mantan Menteri Pertahanan China, Wei Fenghe dan Li Shangfu, Divonis Mati karena Korupsi