Faktanya, populasi gajah Sumatera terus merosot. Ancaman perburuan dan kerusakan habitat sudah cukup berat. Mempekerjakan mereka untuk hal-hal di luar kodratnya hanya akan menambah beban, mempercepat potensi cedera, dan memicu stres yang mengancam nyawa mereka.
Lirabica kemudian menyentuh soal kepemimpinan. Ia menekankan bahwa Presiden Indonesia dikenal sebagai sosok pencinta hewan yang kerap menyerukan welas asih. Harapannya, seluruh institusi negara bisa mencerminkan nilai itu dalam tindakan nyata, tidak sekadar wacana.
"Saya yakin Presiden kita adalah sosok yang sangat peduli pada hewan. Karena itu, saya percaya negara tidak akan membiarkan praktik yang menyakiti satwa terjadi," ujarnya.
"Kami para pencinta hewan tidak akan tinggal diam jika ada kedzaliman terhadap hewan," tambahnya dengan nada lantang.
Seruannya juga ditujukan ke masyarakat luas. Untuk lebih peka. Kemajuan sebuah bangsa, dalam pandangan Lirabica, tak cuma diukur dari ekonomi atau infrastruktur fisik, tapi juga dari caranya memperlakukan makhluk hidup yang tak bisa membela diri.
Ia berharap insiden di Aceh ini bisa jadi momentum. Saatnya pemerintah memperketat SOP penanganan satwa, khususnya yang dilindungi. Konservasi harus berfokus pada kesejahteraan hewan, bukan malah mengeksploitasi mereka dengan dalih efisiensi atau tradisi.
"Indonesia punya alat, punya teknologi, punya tenaga ahli," tutup Lirabica. "Tidak ada alasan memakai hewan untuk pekerjaan yang jelas-jelas jauh di luar kapasitas biologis mereka."
Artikel Terkait
Tangis Reza Arap dan Pesan Singkat Denny Sumargo di Pemakaman Lula Lahfah
Cover Maira Muthma Bikin Alaina Castillo Terpana: So Good, Oh My!
Di Balik Kemasan Pink, Bahaya Mematikan Gas Whip Pink yang Viral
Pesan Cinta Denada untuk Ressa di Tengah Gugatan Rp7 Miliar