"Saya tetap ingin berdamai dalam keadaan yang baik, sehingga ke depannya tidak ada lagi yang namanya hujat-menghujat, tuduh-menuduh, ataupun drama-drama pertengkaran lagi," harap Andre.
Ditanya soal hikmah, ia mengaku tak menyimpan dendam atau kekesalan. Justru, pengalaman pahit ini dijadikannya pelajaran untuk jadi pribadi yang lebih baik ke depannya.
"Fokus saya sekarang adalah untuk membesarkan anak-anak, mendampingi mereka, dan juga fokus ke saya sendiri untuk melanjutkan hidup," pungkasnya.
Perjalanan menuju keputusan ini memang berliku. Cerita awalnya, Andre pertama kali mendaftarkan permohonan cerai talak di Pengadilan Agama Tigaraksa pada April 2024. Tapi, permohonannya ditolak hakim beberapa bulan kemudian karena dalil perselisihan yang diajukan dinilai tak terbukti.
Ia lalu banding ke Pengadilan Tinggi Agama Banten. Tak berhenti di situ, pada April 2025, Andre mengajukan lagi permohonan baru di Tigaraksa. Lagi-lagi gagal.
Setelah tiga kali kandas, ia memindahkan gugatannya ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan pada September 2025. Dan akhirnya, pada Selasa (11/11/2025), majelis hakim memutuskan mengabulkan permohonan cerai talaknya.
Menurut juru bicara pengadilan, Abid MA, putusan hanya menyangkut perceraian saja. Hal-hal lain seperti hak asuh anak, harta bersama, dan nafkah telah disepakati damai oleh kedua belah pihak di luar pengadilan.
"Poinnya cerai talak saja. Yang lainnya itu disepakati ya, artinya terjadi perdamaian di luar cerai talak," jelas Abid.
Artikel Terkait
Aurelie Moeremans Buka Luka Masa Lalu, Luncurkan Buku untuk Lawan Child Grooming
Boiyen Diduga Sudah Tahu Skandal Penipuan Suami Sejak Lama
Doktif Buka Pintu Damai untuk Richard Lee, Asal Uang Ratusan Miliar Dikembalikan
Jaket Robek dan Jasad Misterius Guncang Alur Mencintai Ipar Sendiri