Addie M.S., sang pimpinan orkestra, punya pandangan senada. Ia bilang LMO dibangun dengan misi mulia: menciptakan ruang inklusif yang menyatukan anak-anak dari berbagai latar. Baginya, ini bukan cuma soal musik. Ini tentang membangun empati, penerimaan, dan kebersamaan yang dampaknya nyata bagi banyak orang.
Di sisi lain, Fadli Zon kembali menekankan komitmen pemerintah untuk memperkuat ekosistem musik nasional secara menyeluruh. Pengembangan bakat dan ekspresi budaya, katanya, harus diiringi dengan perluasan program. Tujuannya agar sektor musik bisa memberi kontribusi lebih besar bagi ekonomi budaya dan industri kreatif.
Acara itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pejabat penting. Sekjen Kemendikbud Bambang Wibawarta, Dirjen Diplomasi Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, hingga Irjen Kemendikbud Fryda Lucyana hadir mendampingi menteri.
Menutup sambutannya, Fadli Zon kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk membuka ruang bagi talenta muda dan ekosistem musik yang inklusif. Inisiatif anak muda, ia nilai, adalah kekuatan penting yang patut didukung dan dikembangkan bersama.
Ia menambahkan bahwa Kementerian Kebudayaan akan terus mendukung setiap kebutuhan yang muncul.
Dan dengan itu, konser pun berakhir. Namun gaungnya, terutama bagi masa depan musik orkestra di Indonesia, masih akan panjang terdengar.
Artikel Terkait
Mushaf dan Perlengkapan Salat: Kado Terakhir Ridwan Kamil untuk Atalia
Inara Rusli Buka Suara: Kita Tak Bisa Request Peran dalam Hidup
Inara Rusli Buka Suara: Saat Itu Saya Tak Pikirkan Dia Sudah Beristri
Adly Fairuz Diduga Palsukan Identitas Jenderal untuk Tipu Calon Taruna Akpol