Di sisi lain, pengawasan juga diperketat ke lapangan. BPOM menyasar pedagang takjil yang marak selama Ramadan. Dari 1.350 pedagang di 298 lokasi, petugas mengambil 2.888 sampel makanan untuk dites cepat.
Hasilnya? Ada 48 sampel atau sekitar 1,66% yang positif mengandung bahan berbahaya. Formalin, boraks, dan pewarna tekstil rodamin B masih jadi biang kerok.
Formalin banyak ketahuan di mi kuning basah dan tahu, terutama di Tangerang dan Surabaya. Sementara rodamin B yang bikin warna jadi ngejreng itu ditemukan di sirup, es cendol, dan kerupuk dari Jakarta sampai Ambon. Boraks memang lebih jarang, tapi masih ada di mi kuning dan lontong di beberapa kota seperti Padang, Denpasar, dan lagi-lagi Ambon.
Ambil contoh di Sulawesi Selatan. Dari 20 tempat yang diperiksa, 11 di antaranya melanggar. Petugas menyita 3.031 "pieces" produk TMK, didominasi barang tanpa izin edar.
Untuk menindaklanjuti, BPOM langsung melakukan pengamanan dan pemusnahan. Sebagian produk juga dikembalikan ke pemasok agar tidak beredar lagi.
“Saya minta masyarakat tetap waspada dan belajar mengenali ciri-ciri pangan berbahaya,” pesan Taruna.
Dia memberi contoh: mi yang tidak mudah putus dan berbau kimia kuat patut dicurigai mengandung formalin. Lalu bakso yang kenyalnya berlebihan bisa jadi tanda boraks. Atau kerupuk dengan warna merah menyala dan berpendar, itu sering pakai rodamin B.
Intinya, di tengah euforia berburu takjil dan persiapan lebaran, kehati-hatian ekstra dalam memilih makanan tetap jadi kunci utama.
Artikel Terkait
Doa Mustajab di 10 Hari Terakhir Ramadhan, Ini Anjuran dan Contohnya
KPK Periksa Mantan Menhub Budi Karya Sumadi di Semarang Terkait Kasus Korupsi Kereta Api
Duo Z Pasrah dan Siap Tampil Maksimal di Grand Final Cahaya Muda Indonesia
Ahli Tegaskan GERD Bisa Sembuh Total dengan Penanganan Komprehensif