Dari Teheran, kabar terbaru datang mengejutkan. Iran secara tegas membantah telah menutup akses pelayaran di Selat Hormuz. Padahal, selat strategis itu kini sepi dari lalu lintas kapal tanker semenjak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terjadi.
Menlu Iran, Abbas Araghchi, justru menuding Washington sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kekacauan ini. Menurutnya, hambatan di jalur pelayaran minyak global itu bukan ulah Iran.
"Produksi dan transportasi minyak melambat atau berhenti bukan karena kami," ujar Araghchi dengan nada tegas.
Dalam wawancaranya dengan PBS, media AS, dia menjelaskan lebih lanjut. "Semua ini terjadi karena serangan dan agresi Israel dan Amerika terhadap kami."
Dia tak ragu menyebut AS-lah yang telah menciptakan kondisi tidak aman di kawasan Timur Tengah, termasuk di perairan sempit itu. "Mereka yang membuat seluruh kawasan tidak aman. Itulah sebabnya kapal-kapal takut lewat. Kami tidak menutup selat ini," tegasnya sekali lagi, menepis segala tuduhan.
Di sisi lain, dari Washington, Presiden Donald Trump sudah lebih dulu bersuara. Dia berjanji akan menjaga keamanan pelayaran di selat tersebut. Trump bahkan bersumpah tak akan membiarkan Iran mengganggu pasokan minyak dunia.
Ancaman itu diucapkannya dengan blak-blakan. Jika pemblokadean terus terjadi, serangan yang lebih keras akan dilancarkan terhadap Iran. Pernyataan itu menggantung, menambah tegang suasana yang sudah panas.
Artikel Terkait
Wali Kota Makassar Hadiri Pencanangan Sensus Ekonomi 2026, Tekankan Pentingnya Data untuk Kebijakan Pembangunan
Kuasa Hukum Roy Suryo Pertanyakan Kontradiksi Klaim P21 dan Desakan Penahanan
Kuasa Hukum Dokter Oky Pratama Bantah Keterlibatan Klien dalam Kasus Buzzer di Bandung
Peradi Bersatu Desak Polisi Tahan Roy Suryo atas Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi