Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah

- Minggu, 22 Februari 2026 | 17:40 WIB
Jam Kerja Dipangkas Selama Ramadan, Aturan Berbeda di Indonesia dan Timur Tengah

Bahrain dan Oman tak jauh beda. Keduanya menerapkan jam kerja lebih pendek untuk sektor publik, umumnya enam jam per hari, sesuai regulasi pemerintah yang dikeluarkan tiap Ramadan.

Jadi, di Timur Tengah, aturannya memang cenderung seragam dan formal. Tapi bagaimana dengan negara-negara lain yang punya populasi Muslim signifikan? Ternyata, pendekatannya lebih fleksibel.

Fleksibilitas di Luar Timur Tengah

Ambil contoh India. Mereka nggak punya kebijakan nasional yang mewajibkan pemotongan jam kerja. Meski begitu, di daerah-daerah dengan komunitas Muslim besar, banyak kantor yang memberikan kelonggaran jadwal secara internal.

Turki juga begitu. Pemerintah pusatnya tidak mengeluarkan aturan khusus. Tapi perusahaan-perusahaan di sana seringkali menyesuaikan sendiri jam operasional mereka selama bulan puasa.

Di Eropa, situasinya lebih beragam lagi. Di Britania Raya dan Jerman, sejumlah perusahaan menawarkan opsi kerja fleksibel, kerja dari rumah, atau menyediakan ruang khusus untuk salat. Ini lebih bersifat kebijakan korporat, bukan perintah negara.

Sementara Prancis, dengan prinsip sekularisme ketatnya, tidak mengakui Ramadan sebagai hari libur. Tapi di lapangan, beberapa tempat kerja tetap memberi toleransi, misalnya dengan tambahan waktu istirahat singkat saat berbuka.

Jadi, meski tujuannya sama memberi keringanan selama bulan suci cara setiap negara menerapkannya benar-benar berbeda. Semuanya tergantung budaya dan regulasi setempat.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar