Dr. Adrian Furnham, psikolog sekaligus peneliti utama studi ini, menjelaskan lebih lanjut.
“Lonjakan hormon ovarium menyebabkan peningkatan perilaku belanja impulsif dan berlebihan pada perempuan sebelum menstruasi,” ujarnya.
Jadi, ini bukan sekadar mitos atau alasan belaka. Ada mekanisme biologis yang bekerja di baliknya.
Di sisi lain, fase pra-menstruasi seringkali dibarengi dengan rasa cemas, mudah tersinggung, dan dorongan impulsif yang kuat. Kondisi emosional yang seperti itu, mau tak mau, mendorong seseorang mencari pelampiasan. Belanja kerap jadi pilihan instan untuk mengatur perasaan, meski ujung-ujungnya malah bikin menyesal.
Yang perlu digarisbawahi, studi ini secara gamblang menunjukkan bahwa perilaku ekonomi kita nggak selalu rasional. Faktor emosional dan biologis ternyata punya peran besar, lho, terutama dalam keputusan finansial sehari-hari perempuan.
Nah, dengan memahami pola ini, kita bisa lebih waspada. Misalnya, dengan sengaja menunda pembelian barang mahal atau lebih ketat memegang anggaran saat mendekati masa tersebut. Dengan begitu, kita bisa lebih berdamai dengan siklus alami tubuh tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.
Artikel Terkait
Hujan Imlek: Mitos Keberuntungan atau Kebetulan Alam Semata?
Lula Lahfah, Selebgram dan Kekasih Reza Arap, Tutup Usia di Usia 26 Tahun
Waspada Bocor! Ini Cara Ampuh Lindungi Atap Rumah Saat Hujan Tiba
Ironi Negeri Subur: Konsumsi Buah dan Sayur Orang Indonesia Mandek Sejak 2007