JAKARTA – Masalahnya jelas: Indonesia masih minus sekitar 140 ribu dokter. Padahal, kebutuhan akan tenaga medis ini terus mendesak. Sementara itu, jumlah lulusan baru setiap tahunnya? Masih sangat terbatas untuk mengejar ketertinggalan itu.
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan angka yang cukup mencengangkan. Menurutnya, Indonesia baru bisa menghasilkan kira-kira 9 ribu dokter per tahun. Bayangkan saja, butuh waktu sangat lama untuk menutupi kekurangan 140 ribu itu. Belum lagi, sambil kita berusaha mengejar, semakin banyak dokter senior yang justru memasuki masa pensiun. Rasanya seperti lari di tempat.
Nah, dalam upaya mencari solusi jangka panjang, pemerintah pun membuka peluang kerja sama dengan pihak luar. Dalam kunjungan kerjanya ke London baru-baru ini, Presiden mengajak sejumlah perguruan tinggi terkemuka Inggris untuk bermitra. Tujuannya? Mendirikan 10 universitas baru di dalam negeri.
Prabowo menyampaikan hal ini dalam forum UK–Indonesia Education Roundtable di Lancaster House, London, Selasa lalu.
"Jadi, ini adalah sesuatu yang harus kami lakukan dengan rencana strategis," ujarnya, seperti dikutip Kamis (22/1/2026).
Ambisi Presiden terlihat jelas: mempercepat jumlah lulusan kedokteran dan sekaligus menaikkan kualitas pendidikan tinggi kita. Dia ingin standarnya setara dengan yang terbaik di dunia. Bukan hal yang mudah, tapi tampaknya sedang diusahakan serius.
Kerja sama dengan Inggris sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Beberapa universitas top kita seperti UI dan UGM sudah lama menjalin hubungan dengan mereka. Bahkan, beberapa kampus Inggris sudah punya cabang di Indonesia, misalnya di Singosari dan Bandung, yang fokus pada bidang-bidang yang kita butuhkan seperti digital dan teknologi.
"Mereka sudah banyak bekerja sama dengan UI, Gadjah Mada, dan banyak universitas lainnya. Mereka juga sudah punya kampus di kita, ada di Singosari, ada di Bandung, di bidang yang kita butuh, bidang digital, bidang teknologi," kata Presiden Prabowo.
Sebelumnya, dalam pengantar pertemuan itu, Prabowo sudah menggarisbawahi betapa seriusnya masalah kekurangan tenaga medis ini. Bukan cuma dokter umum, tapi juga dokter gigi. Kekurangan yang signifikan.
Itulah mengapa, dari kunjungan kenegaraan ini, muncul rencana konkret untuk mendirikan 10 kampus baru. Fokus utamanya tentu saja kedokteran, tapi tidak hanya itu. Bidang-bidang STEM science, technology, engineering, and mathematics juga menjadi prioritas.
Bentuk kerja samanya sendiri direncanakan cukup beragam. Mulai dari menambah kuota mahasiswa Indonesia yang dikirim kuliah ke Inggris, mendirikan kampus cabang universitas Inggris di sini, sampai program pertukaran dosen. Skemanya dibuat seluas mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Pertemuan Prabowo dengan Menteri Pendidikan Inggris dan perwakilan Russell Group kumpulan universitas paling bergengsi di sana ini diharapkan bukan sekadar seremonial. Ada harapan besar bahwa kolaborasi ini bisa mendongkrak peringkat universitas Indonesia di peta global. Waktulah yang akan membuktikan.
Artikel Terkait
Andhika Pratama dan King Nassar Dipercaya Padu Padan Kontras di Program Baru RCTI
RCTI Hadirkan Program Baru Healing Jalur King Nassar, Hiburan Unik ala Raja Nyentrik
Keutamaan Puasa Dzulqa’dah di Hari Senin, Niat Gabung Dua Ibadah Sunah Sekaligus
Prabowo Subianto Hadiri Resepsi Pernikahan El Rumi dan Syifa Hadju di Jakarta