Dalam banyak hubungan, perempuan kerap tumbuh dengan satu pemahaman: mencintai berarti mengerti, mengalah, dan menopang emosi pasangan. Kita jadi pendengar yang sabar, penenang saat amarah meledak, hingga sandaran saat mereka kehilangan arah. Lama-lama, peran ini terasa seperti kewajiban. Bukan pilihan lagi.
Fenomena inilah yang belakangan disebut mankeeping. Intinya, ini kerja emosional tak terlihat yang banyak dilakukan perempuan untuk menjaga kestabilan perasaan laki-laki dalam hubungan. Mulai dari mengingatkan hal-hal kecil, meredam cekcok, memvalidasi perasaan, sampai jadi tempat pulang saat pasangan lelah dengan dunianya. Semua demi satu tujuan: agar hubungan tetap berjalan "baik-baik saja".
Menurut sejumlah saksi, masalahnya jelas: mankeeping sering bikin beban emosional jadi timpang. Perempuan dituntut peka dan dewasa secara emosional. Sementara di sisi lain, laki-laki tak selalu didorong mengembangkan kapasitas serupa. Hasilnya? Kelelahan emosional yang muncul karena terlalu banyak memberi, tanpa dapat ruang untuk dirawat balik.
“Perempuan sering menjadi manajer emosi dalam hubungan, mengantisipasi kebutuhan pasangan dan menjaga stabilitas emosional, sementara laki-laki jarang dilatih untuk melakukan hal yang sama,”
Artikel Terkait
Pegadaian: Investasi Emas Digital Bisa Dimulai dari Rp10.000
YouTuber Bigmo Ditahan sebagai Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Azizah Salsha
Isyana Sarasvati Bantah Tuduhan Sekte Satanik Lewat Unggahan Media Sosial
Isyana Sarasvati Dituding Ikut Sekte Satanik Usai Tampilkan Visual Mata Satu