JAKARTA – Bagi umat Islam, peristiwa Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW adalah momen penting yang penuh hikmah. Perjalanan agung yang terjadi pada 27 Rajab ini, tahun ini jatuh pada hari Jumat, 16 Januari 2026. Kisahnya sendiri diabadikan dalam Al Quran, tepatnya di Surat Al Isra ayat 1 dan Surat An Najm ayat 13-18.
Secara bahasa, Isra Miraj berasal dari dua kata. Isra, dari kata ‘asra-yusri-isra’, punya arti ‘memperjalankan’. Sementara Miraj berarti alat naik atau tangga. Nah, dalam sejarah Islam, istilah ini merujuk pada dua perjalanan luar biasa. Pertama, Isra, yaitu perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem. Kemudian, Miraj adalah perjalanan beliau dari bumi naik ke langit ketujuh, hingga ke Sidratul Muntaha.
Di Sidratul Muntaha inilah Nabi menerima perintah langsung dari Allah SWT: sholat lima waktu. Menyambut hari besar ini, masyarakat Muslim di Indonesia biasanya ramai menggelar pengajian atau acara keagamaan lainnya. Lalu, seperti apa sebenarnya gambaran peristiwa ini dalam kitab suci?
Ayat tentang Isra Miraj dan Artinya
Seperti disinggung tadi, rincian peristiwa Isra tercantum dalam Surat Al Isra ayat 1. Ayat ini menggambarkan perjalanan malam Nabi bersama Malaikat Jibril.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Latin: Subḥaanalladii asraa bi'abdihii lailam minal-masjidil-ḥaraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas samii'ul bashiiir
Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al Isra:1).
Para ulama hadits sepakat bahwa Rasulullah menjalani Isra dalam keadaan terjaga, bukan mimpi. Beliau menunggangi Buraq, makhluk dari surga yang dibawa Jibril. Menariknya, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu tak langsung. Mereka singgah di lima tempat.
Di setiap persinggahan, Nabi melaksanakan shalat sunnah dua rakaat.
Pertama, di Kota Madinah. Jibril memberitahu bahwa di sinilah kelak Nabi akan berhijrah.
Kedua, di Madyan, tempat Nabi Musa AS dulu bersembunyi dari kejaran Fir’aun.
Persinggahan ketiga adalah Thuur Sina, lokasi Nabi Musa berbicara langsung dengan Allah.
Keempat, di Baitul Lahm, tempat kelahiran Nabi Isa AS.
Barulah kemudian tiba di tujuan, Masjidil Aqsha.
Dalam perjalanan itu, ada satu momen simbolis yang menarik. Nabi Muhammad disuguhi dua gelas: satu berisi susu, satunya arak. Beliau memilih susu. Jibril pun mengucapkan selamat, karena pilihan itu menandakan kebaikan untuk beliau dan umatnya.
Naik ke Sidratul Muntaha
Usai memimpin shalat para nabi di Al Aqsa, perjalanan dilanjutkan. Kali ini, Miraj menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT. Fase ini disebutkan dalam Surat An Najm ayat 13-18.
وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)
Latin : Walaqad ra abu nazlatan ukhraa, 'inda Sidratil Muntaha, 'indaha jannatul ma waa, idz yaghsyas sidrati ma yaghsyas, maa zaaghal basharu wamaa thagha, laqad ra aaa min aayati rabbihil kubraa.
Arti : "Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar." (QS. An Najm: 13-18).
Dalam perjalanan naik ini, Rasulullah singgah di tujuh lapisan langit. Di setiap langit, beliau bertemu dengan para nabi terdahulu: Adam di langit pertama, Yahya dan Ishaq di kedua, Yusuf di ketiga, Idris di keempat, Harun di kelima, Musa di keenam, dan Ibrahim di langit ketujuh.
Lalu, beliau diajak ke Baitul Makmur, tempat para malaikat thawaf. Dari sini, perjalanan ke Sidratul Muntaha dilanjutkan sendirian tanpa Jibril. Di sinilah pertemuan agung dengan Allah terjadi.
Awalnya, Allah memerintahkan shalat 50 waktu dalam sehari. Saat turun, Nabi bertemu Nabi Musa yang menyarankan untuk memohon keringanan. Nabi Muhammad pun kembali menghadap Allah. Setelah beberapa kali permohonan, akhirnya ditetapkanlah kewajiban shalat lima waktu seperti yang kita kenal sekarang.
Meski hanya lima waktu, pahalanya dijanjikan setara dengan lima puluh waktu. Sebuah kemurahan dan kasih sayang yang luar biasa.
Begitulah kisah Isra Miraj yang tertuang dalam Al Quran. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa penuh mukjizat ini.
Artikel Terkait
Polisi Lakukan Uji Forensik untuk Pastikan Keaslian Video Viral Inarasati dan Insanul Fahmi
Selebgram Inarasati Bantah Tuduhan Perzinaan Usai Diperiksa Polisi
Pelatihan PNM Mekaar Ubah Pedagang Beras di Depok Jadi Pengusaha Kantin Sukses
Kemenkop Buka Rekrutmen 30.000 Manajer Koperasi Desa, Pendaftaran 15-24 April 2026