Lalu, perhatikan wajahnya. Barbie ini memiliki pandangan mata yang sedikit melirik ke samping, sebuah representasi dari kecenderungan sebagian orang dengan autisme yang merasa tidak nyaman dengan kontak mata langsung.
“Sebagai bagian dari komunitas autistik, tim ASAN kami sangat senang dapat terlibat dalam pembuatan boneka Barbie pertama dengan kondisi autisme. Sangat penting bagi orang-orang muda dengan autisme untuk melihat representasi diri mereka sendiri yang autentik dan penuh kebahagiaan,”
Kata Colin Killick, Executive Director ASAN.
Aksesorinya juga dipilih dengan cermat. Ada "fidget spinner" warna pink yang bisa membantu meningkatkan fokus. Lalu headphone pink untuk menahan suara bising yang mungkin membanjiri indera. Serta sebuah tablet yang menampilkan aplikasi komunikasi berbasis simbol, alat yang kerap digunakan sebagai sarana komunikasi alternatif.
Busananya pun punya cerita. Dia mengenakan atasan longgar dan rok pendek yang "flowy", plus sepatu flat tanpa hak. Pilihan gaya seperti ini sering kali lebih nyaman bagi mereka yang mengalami kewalahan sensoris akibat sentuhan kain tertentu pada kulit.
Kalau kita lihat ke belakang, sebelum 2019, varian inklusif Barbie bisa dibilang masih jarang. Tapi sekarang, semuanya berubah. Mattel gencar merilis Barbie Fashionistas dengan beragam latar: mulai dari yang menggunakan kursi roda, tunanetra, diabetes tipe 1, hingga yang Tuli. Langkah mereka menunjukkan bahwa dunia mainan pun perlahan mulai mencerminkan keragaman dunia nyata.
Artikel Terkait
Mawa Buka Pintu Damai, Tuntut Itikad Baik Konkret dari Insanul
Frank & Co. Buka Butik Baru di Plaza Senayan, Usung Konsep Kotak Perhiasan dan Koleksi Kolaborasi
Pusing Usai Bercinta Saat Hamil: Normalkah? Ini Kata Ahli
Korban Akademi Crypto Laporkan Kerugian Rp3 Miliar ke Polda Metro Jaya