Baginya, pilihan Rama itu adalah pernyataan politis. Intinya: meski menduduki posisi penting, ia tetap ingin menjadi dirinya sendiri, seorang perempuan New York yang apa adanya.
Pernyataan itu berlanjut usai upacara. Saat menyapa warga, Rama berganti pakaian. Kali ini, ia memilih mantel cokelat panjang bergaya A-Line dari desainer Palestina-Lebanon, Cynthia Merhej, untuk brand Renaissance-nya.
Ini bukan kali pertama dia memilih desainer Palestina. Malam kemenangan Pilwalkot November lalu, Rama sudah memakai dress boat neck karya Zeid Hijazi, desainer Palestina-Yordania. Pilihannya jelas: sebuah solidaritas.
“Di hari pertamanya sebagai First Lady New York, Rama mengenakan desainer perempuan independen dari Timur Tengah. Representasi tersebut beresonansi dan bergema. Sebab, fashion itu mengomunikasikan, menyampaikan pesan,” papar Gabriella.
Cynthia Merhej sendiri menyambut hangat pilihan Rama. Desainer itu merasa terhormat.
“Saya mengagumi dan menghormati keputusan Rama memanfaatkan momen ini untuk mengangkat komunitasnya. Dengan memilih mengenakan busana rancangan desainer dari wilayah Timur Tengah, dia memanusiakan kami serta menunjukkan budaya dan kreativitas luar biasa yang kami miliki di sini. Ini semakin membawa harapan besar, harapan bahwa dunia bisa dan akan berubah dalam lanskap yang lebih luas,” ucap Cynthia.
Majalah Harper’s Bazaar menyoroti kontras gaya Rama dengan First Lady sebelumnya. Gaya yang segar dan penuh pernyataan ini dinilai sangat cocok dengan pemerintahan Zohran Mamdani yang diusung oleh semangat perubahan bahkan revolusioner.
Artikel Terkait
Tracksuit Maduro Ludes Terjual Usai Foto Penangkapan Viral
Scorpio Januari 2026: Cinta Butuh Komunikasi, Karier Siap Melesat
Manohara Bongkar Pernikahan di Usia 15: Bukan Hubungan, Tapi Paksaan
Perempuan yang Berani: Hidup Tenang sebagai Bentuk Perlawanan