Retret kabinet perdana Prabowo Subianto digelar di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Selasa lalu. Suasana di lokasi yang asri itu tampak cair, meski agenda yang dibahas serius.
Di hadapan seluruh menteri kabinet Merah Putih yang hadir, Prabowo membuka dengan pertanyaan yang memancing gelak tawa. "Tapi di sini koalisi kita kuat kan?" tanyanya. Pertanyaan itu tentu saja punya konteks. Pasalnya, koalisi pendukungnya memang mengalami pergeseran pasca-Pilpres 2024.
Dulu, Prabowo diusung oleh Gerindra, Golkar, PAN, Demokrat, PSI, Garuda, Prima, dan Gelora. Namun belakangan, PKS dan PKB memutuskan masuk ke dalam pemerintahan. Bahkan NasDem pun menyatakan dukungan, walau tak mengambil kursi kabinet.
Mata Prabowo lalu menyapu ruangan, seakan memeriksa kehadiran para pimpinan partai. "Ketua partai semua ada?" tanyanya lagi.
"Ketua PKB ada? Oh PKB yang harus diawasi terus,"
Selorohnya tentang Cak Imin sapaan akrab Muhaimin Iskandar langsung disambut tawa renyah para peserta. PKB sendiri punya catatan politik yang berliku: sempat mendukung Prabowo, lalu berpindah ke kubu Anies Baswedan, sebelum akhirnya kembali mendukung Prabowo setelah pemilihan usai.
Di ruangan itu, hadir para ketua umum yang sekaligus menjabat menteri koordinator. Muhaimin Iskandar (PKB) sebagai Menko PMK, Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat) sebagai Menko Infrastruktur, dan Zulkifli Hasan (PAN) sebagai Menko Pangan. Tak ketinggalan, Bahlil Lahadalia (Golkar) yang memegang portofolio ESDM.
Pesan Tegas di Balik Candaan
Di balik guyonan dan tawa, Prabowo menyampaikan pesan yang sangat tegas kepada para anggota kabinetnya. Intinya satu: jangan ragu-ragu.
"Saudara-saudara, kita buktikan. Kalau niat kita bersih, niat kita tidak mencuri uang rakyat, kita berbuat untuk kepentingan rakyat dan bangsa, kita tidak perlu ragu sedikitpun. Kita tidak perlu gentar,"
Pidatonya bernada seperti perintah sekaligus motivasi. Prabowo tampak sadar betul bahwa langkah-langkah yang akan diambil pasti menuai reaksi. Fitnah dan cibiran, menurutnya, adalah konsekuensi yang harus dihadapi.
Ia bahkan menyebut adanya kekuatan-kekuatan yang nyaman dengan keadaan lama. "Banyak kekuatan, tidak hanya di negara kita, yang memang senang berada di alam penuh korupsi dan penyelewengan," ujarnya. "Mereka ingin kaya di atas penderitaan rakyat kecil."
Pesan itu jelas. Retret ini bukan sekadar acara seremonial belaka, melainkan pengingat akan tantangan besar di depan. Koalisi mungkin sudah kuat di ruangan itu, tapi medan sebenarnya baru akan dimulai.
Artikel Terkait
KAMMI Serahkan Hasil Panen Beras Sambas ke Mentan, Buktikan Peran Pemuda dalam Ketahanan Pangan
IHSG Melemah Tipis, Analis Soroti Level Kunci 8.170 untuk Tren Berikutnya
Kemenag Tegaskan Aturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada, Tanggapi Protes WNA di Gili Trawangan
Komisi III DPR RI Kutuk Keras Kematian Nizam, Polres Sukabumi Masih Selidiki Dugaan Kekerasan