Dokter Anak Bergerak Cepat di Tengah Banjir dan Longsor Sumatera

- Selasa, 02 Desember 2025 | 15:54 WIB
Dokter Anak Bergerak Cepat di Tengah Banjir dan Longsor Sumatera

Sejak akhir November lalu, cuaca ekstrem menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Banjir dan tanah longsor datang bertubi-tubi, mengubah kehidupan ribuan orang dalam sekejap. Di tengah situasi darurat ini, para dokter anak dari Ikatan Dokter Indonesia (IDAI) di ketiga provinsi itu langsung turun tangan. Fokus mereka jelas: memberikan layanan kesehatan dan dukungan, terutama untuk anak-anak yang paling rentan terdampak.

Menurut Ketua IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), dalam kondisi krisis seperti ini, prioritas utama harus diberikan kepada kelompok rentan. Itu mencakup anak-anak, penyandang disabilitas, orang lanjut usia, dan ibu hamil, baik dalam proses evakuasi maupun penyaluran bantuan.

“Anak-anak bisa mengalami trauma, ketakutan, cemas, bahkan mimpi buruk. Sehingga perlu upaya-upaya mengajak mereka bermain dan sebagainya. Aktivitas seperti menggambar mungkin bisa jadi salah satu opsi untuk mengatasi anak di fase-fase akut ini,” jelas dr. Piprim dalam sebuah webinar IDAI, Senin (1/12).

Ia tak lupa mengingatkan ancaman lain di tempat pengungsian. Selain trauma psikis, penyakit menular mudah sekali merebak di lingkungan yang padat dan serba terbatas.

“Pastikan anak-anak juga dapat makanan yang bergizi, air bersih yang aman. Anak juga rentan dengan penyakit menular di pengungsian, biasanya campak yang mudah sekali menyebar ke mana-mana, imunisasi di pengungsian juga perlu diupayakan,” sambungnya.

Gambaran dampak bencana ini cukup suram. Hingga tanggal 1 Desember 2025, data terpadu dari IDAI mencatat kerugian yang besar. Di Sumatera Barat, korban jiwa mencapai 148 orang, termasuk empat di antaranya anak-anak. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara di Sumatera Utara, laporan menyebut puluhan korban meninggal dan ratusan warga di daerah seperti Sibolga, Tapanuli, Langkat, dan Binjai terdampak parah. Di Aceh, yang paling terasa adalah gangguan signifikan terhadap akses layanan kesehatan, khususnya di wilayah Pidie Jaya.

Menghadapi situasi itu, respons IDAI di lapangan berjalan cepat. Mereka mengerahkan tenaga medis, membuka layanan kesehatan gratis, dan menyiapkan dukungan psikososial di berbagai posko pengungsian.

Di Sumatera Utara, aksi mereka terpusat di beberapa titik terdampak berat. Di pengungsian Binjai KM 41B, 66 anak diperiksa dengan kasus terbanyak ISPA dan diare. Tak jauh dari sana, di Langkat KM 55, infeksi kulit justru mendominasi dari 25 anak yang diperiksa. Pola serupa terlihat di Medan Barat, di mana puluhan anak juga banyak menderita infeksi saluran pernapasan.

Sementara itu, di Sumatera Barat, upaya tim sedikit berbeda. Selain pengobatan umum di Padang dan Pariaman, mereka juga melakukan skrining tumbuh kembang. Dari 47 anak yang diskrining di Kota Padang, ditemukan satu kasus keterlambatan bicara.

Lain lagi ceritanya di Aceh. Tantangan terbesarnya adalah akses. Untuk mengatasinya, IDAI mengirim Tim Medis Darurat ke RSUD Pidie Jaya dan menggelar klinik keliling untuk menjangkau daerah yang sulit. Mereka juga membuka posko layanan kesehatan di tempat-tempat seperti Masjid Agung Bireuen, berusaha menjangkau siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar