Rusia Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran, Namun Sikapnya Tetap Terukur

- Rabu, 04 Maret 2026 | 08:30 WIB
Rusia Kutuk Serangan AS-Israel ke Iran, Namun Sikapnya Tetap Terukur

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran berakhir dengan tragedi. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur. Dunia pun menahan napas, dan sorotan kini beralih ke dua sekutu utama Teheran: Rusia dan China. Sejauh mana mereka akan membela Iran?

Hubungan diplomatik, perdagangan, dan militer antara Moskow-Beijing dengan Iran memang sudah lama dan erat. Tapi serangan mematikan ini benar-benar menguji komitmen mereka. Apakah dukungan hanya akan berhenti di kata-kata, atau ada langkah nyata yang akan menyusul?

Dari Moskow, reaksinya keras. Namun begitu, kalau diamati lebih saksama, dukungan konkretnya masih terbatas. Sikap Rusia sepertinya mencerminkan dua hal: kemarahan terhadap AS dan Israel, di satu sisi, dan kehati-hatian agar tidak ikut terseret ke dalam konflik terbuka, di sisi lain.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, tak menyembunyikan kekecewaannya. Dia menyayangkan perundingan antara Washington dan Teheran justru berujung pada situasi yang memburuk.

"Ini telah memburuk menjadi agresi terbuka," ujarnya.

Peskov menegaskan Rusia tetap menjaga komunikasi dengan pejabat tinggi Iran dan negara-negara Teluk. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia lebih blak-blakan, mengecam aksi AS dan Israel sebagai 'agresi tanpa provokasi'. Mereka bahkan menuding adanya praktik pembunuhan politik semacam 'perburuan' terhadap pemimpin negara berdaulat.

Presiden Vladimir Putin sendiri telah menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Dalam pernyataannya, Putin menyebut kematian Khamenei sebagai sebuah pelanggaran serius.

"Ini adalah pelanggaran terhadap moralitas manusia dan hukum internasional," kata Putin.

Namun, ada hal yang menarik. Putin terlihat menghindari kritik langsung kepada Presiden AS Donald Trump. Bahkan, dia masih sempat berterima kasih kepada Washington atas peran mediasinya di Ukraina. Sebuah nuansa yang menunjukkan betapa rumitnya peta politik ini.

Jadi, meski kata-katanya panas, langkah Rusia masih terukur. Mereka berdiri di samping Iran, tapi mungkin tidak ingin maju terlalu jauh ke depan. Semuanya kini bergantung pada langkah selanjutnya dari Beijing dan juga, tentu saja, respons balasan dari Teheran.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar